Jumat, 13 April 2012

Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang anak yang sudah bisa berjalan di usianya yang ke tujuh bulan? Memakai sepatu dan menyanyikan lagu-lagu di usianya yang keempat belas bulan? Juga bersekolah di usia delapan belas bulan? Dan percayakah Anda jika cerita ini adalah cerita nyata? Bayi itu bernama Aulia Valeda Charnen, anak dari pasangan suami-istri Yotho Chardiana dan Sri Mulyaningsih. Ia masuk dalam rekor MURI sebagai bayi termuda yang bisa berjalan.

Rahasia dari semua ini adalah stimulasi (rangsangan) yang diberikan oleh orangtua Aulia ketika ia masih berada di dalam kandungan. Stimulasi itu meliputi empat jenis: (1) relaksasi, (2) memperdengarkan musik klasik, (3) membaca shalawat dan Alqur’an, serta (4) berpuasa Daud (sehari puasa, sehari tidak)

Dengan empat jenis stimulasi tersebut, bayi lahir dengan ciri-ciri super. Di antaranya, pada usia 1 minggu ia sudah bisa mengangkat kepala sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Pada usia dua bulan, sudah bisa tengkurap sendiri dan mengangkat kepala. Usia empat bulan sudah bisa duduk tanpa bantuan. Usia lima bulan, sudah bisa berdiri. Usia enam bulan sudah bisa berjalan merambat. Usia tujuh bulan sudah bisa berjalan dengan sempurna. Usia sepuluh bulan sudah tertarik pada alat-alat tulis dan main corat-coret. Usia empat belas bulan sudah bisa memakai sepatu dan menyanyikan lagu-lagu, tidak saja lagu-lagu anak, juga lagu-lagu dewasa. Usia enam belas bulan sudah sangat kritis, sehingga sering mengkritik orangtuanya. Dan, usia delapan belas bulan sudah sekolah.

Banyak orangtua terutama ibu-ibu muda yang mendambakan anaknya bisa secerdas BJ. Habibie, Thomas Alva Edison, Einstein, Issac Newton, dan penemu-penemu serta ilmuwan terkenal lainnya. Juga banyak yang berharap supaya anaknya bisa menjadi ahli hadits seperti Imam Bukhari, ahli tafsir seperti Abdullah Ibn Abbas, jago Fiqh seperti Imam Syafi’i dan Imam Malik, dan ulama-ulama legendaris lainnya. Namun sayang, para orangtua ini tidak tahu bagaimana cara mencerdaskan anak-anak mereka. Pendidikan yang mereka berikan kepada buah hati mereka adalah hasil transferan dari pendidikan yang mereka terima dari leluhur. Sebagaimana mereka dididik maka seperti itu pulalah mereka mendidik tanpa mau menambah ilmu dengan bertanya dan membaca buku-buku psikologi dan pendidikan anak.

Untuk mencerdaskan anak dan menjadikan mereka bagian dari generasi qur’ani yang cerdas, tentu tak cukup dengan menyekolahkan anak di play group, kemudian di usia SD mereka didaftarkan di sekolah unggulan, plus memberikan banyak les-les tambahan serta menyediakan segala fasilitas untuk mereka. Selain perhatian dan pendidikan setelah anak lahir, yang tak kalah pentingnya adalah pendidikan ketika anak masih berada dalam kandungan. Mendidik anak sejak dalam kandungan adalah cara mudah dan murah untuk mencerdaskan anak tanpa harus banyak mengeluarkan biaya, dan tanpa harus menunggu sampai anak menginjak usia sekolah.

Mungkin sebagian orang ada yang tidak percaya bahwa anak, atau lebih tepatnya lagi janin yang berada di dalam perut ibunya bisa mengikuti pelajaran dan stimulasi yang diberikan. Namun keraguan ini dapat kita hilangkan dengan menyimak beberapa penelitian yang dilakukan para ilmuwan Barat dalam bidang perkembangan pralahir. Penelitian ini menunjukkan bahwa selama berada dalam rahim, anak dapat belajar, merasa, dan mengetahui perbedaan antara gelap dan terang. Pada saat kandungan itu telah berusia 20 minggu, kemampuan janin untuk merasakan stimulus telah berkembang dengan cukup baik, sehingga proses pendidikan dan belajar dapat dimulai.

Dalam buku Cara Baru Mendidik Anak Sejak dalam Kandungan, tulisan F. Rene van de Carr, M.D. dan Marc Lehrer, Ph.D., ditegaskan bahwa beberapa kebiasaan baik yang dibentuk secara konsisten oleh ibu-ibu hamil pada dirinya dan bayinya selama kehamilan dapat mengurangi pelbagai kesulitan yang mungkin timbul ketika sang anak sudah lahir ke dunia. Secara teratur memperdengarkan irama musik tertentu (bisa diganti dengan memperdengarkan suara murattal Al-Qur’an), kemudian bercerita dan berdendang untuk si jabang bayi dalam kandungannya, atau melakukan relaksasi, akan memungkinkan ibu-ibu hamil bisa menjalin komunikasi dan membina hubungan positif dengan bayinya.

Menurut F. Rene van de Carr, M.D. dan Marc Lehrer, Ph.D., The American Association of The Advancement of Science pada tahun 1996 telah merangkum hasil penelitian sejumlah ilmuwan dalam bidang stimulasi pralahir atau bayi, antara lain sebagai berikut: Pertama, Dr. Craig Ramey dari University of Alabama menegaskan bahwa program-program stimulasi dini meningkatkan nilai tes kecerdasan dalam pelajaran utama pada semua anak yang diteliti dari masa bayi hingga usia 15 tahun. Anak-anak tersebut mencapai nilai kecerdasan 15 hingga 30 persen lebih tinggi. Kedua, Dr. Marion Cleves Diamond dari University of California, Berkeley, AS melakukan eksperimen bertahun-tahun dan mendapatkan hasil yang sama berulang-ulang bahwa tikus yang diberi stimulasi tidak hanya mengembangkan pencabangan sel otak lebih banyak dan daerah kortikal otak yang tebal, tetapi juga lebih cerdas dan lebih terampil bersosialisasi dengan tikus-tikus lain. Ketiga, Dr. Hugo Moser dari John Hopkins University telah melaporkan penelitiannya terhadap monyet-monyet Rhesus tanpa stimulasi. Hasilnya adalah cacat perilaku yang mencolok dan menyedihkan saat mereka dewasa. Mereka menjadi kikuk, menyiksa diri sendiri dan menarik diri dari kontak sosial dengan monyet-monyet lain dan menunjukkan setiap tanda kecerdasan terbatas.

The Prenatal Enrichment Unit di HuaCchiew General Hospital di Bangkok, Thailand yang dipimpin oleh Dr. C. Panthuraamphorn, telah melakukan penelitian yang sama terhadap bayi pralahir, dan hasilnya disimpulkan bahwa bayi yang diberi stimulasi pralahir akan cepat mahir bicara, menirukan suara, menyebutkan kata pertama, tersenyum secara spontan, mampu menolehkan kepala ke arah suara orangtuanya, lebih tanggap terhadap musik, dan juga mengembangkan pola sosial lebih baik saat ia dewasa.

Demikian juga riset yang dilakukan oleh Prof. Suzuki dari Jepang, sebagaimana pernah dimuat dalam harian The Japan Times Weekly Education, bahwa stimulus yang diberikan terhadap janin sangat terkait dengan tingkat intelegensi anak. Jadi, sejak masih dalam kandungan, anak sebenarnya telah siap merespon stimulasi-stimulasi edukatif yang diberikan kedua orang tuanya, terutama oleh ibunya.

Selain cerita tentang Aulia dan segala kecerdasannya, saya juga punya cerita lain yang berkaitan dengan kecerdasan dan kelebihan anak yang distimulasi sejak dalam kandungan. Ayyasy Ar-Rantisi adalah salah satu anak yang beruntung karena mendapatkan stimulasi sejak ia masih berstatus janin. Stimulasi yang ia dapatkan adalah mendapatkan elusan dan tilawah Alqur’an sesering mungkin, mendengarkan burdah, kemudian materi berikutnya adalah sirah 25 Nabi dan Rasul, lagu-lagu anak (seperti lagu balonku, bintang kecil, pelangi dll), hadits-hadits pendek, sains untuk anak dan terakhir ditutup dengan burdah. Satu paket pelajaran itu biasanya selesai dalam waktu singkat, antara 15 sampai 30 menit. Itu dilakukan setiap pagi, sekitar jam 09.00 WIB, dimulai sejak ia berusia 4 bulan dalam kandungan.

Hasilnya sungguh sangat memuaskan. Ketika lahir Ayyasy tidak banyak menangis dan lebih relaks, lebih gesit, matanya lebih waspada, dan punya kode khusus untuk memberitahukan bahwa ia ingin ganti popok (kalau ia risih dengan popoknya yang basah atau terkena eek-nya, Ayyasy akan menangis dengan suara yang kedengaran seperti berbunyi “eh-ah…eh-ah). Ayyasy juga memiliki rentang perhatian yang lebih lama dan lebih fokus pada gambar-gambar yang ditunjukkan padanya, (ketika Ayyasy berusia 3 bulan ia kami bacakan buku cerita, dan ia kelihatan begitu menyukai gambar-gambar yang ada di buku tersebut. Cerita kesukaannya adalah Kelinci dan Harimau, dan ia sangat pandai menirukan suara auman harimau).

Selain itu, di usianya yang keenam bulan, ia sudah bisa menyebut “umi”, panggilannya kepada saya. Sering ketika ia menangis suara yang keluar tidak hanya sekedar suara tangisan bayi biasa, tapi merupakan bunyi “ummi, ummi…” Di usianya yang ketujuh bulan ia sudah bisa menyebut “am” untuk mengatakan bahwa ia mau makan. Sering jika ia saya beri makan di waktu yang saya kira ia lapar, ia tak menghabiskan makanannya. Tapi jika ia diberi makan setelah menyebut “am” berulang-ulang, pasti ia akan makan dengan lahap.

Huruf ‘r’ biasanya menjadi huruf terakhir yang bisa dikuasai anak. Namun Ayyasy pernah memperdengarkan ‘r’ nya dalam bentuk suara “brr…” ketika ia berusia 10 bulan. Bahkan ketika ia berusia setahun ia pernah mengikuti ucapan abinya yang mengucapkan “kuring’, dan huruf ‘r’ nya sangat jelas terdengar.

Kalau balita banyak yang takut dengan gelap, maka itu tak berlaku pada Ayyasy, karena ia kami biasakan tidur dalam kamar yang gelap sejak ia berusia 6 bulan. Hasilnya, seringkali ketika kami terbangun tengah malam, kami mendapatinya sedang bermain sendiri, tanpa tangisan. Bahkan ketika terkadang listrik tiba-tiba padam, tak ada reaksi negatif yang ditunjukkan oleh Ayyasy. Ayyasy juga tak pernah takut dengan binatang. Ia menunjukkan minat yang sangat baik terhadap binatang-binatang piaraan dan binatang buas, seperti kucing, burung, bebek, kambing, sapi, harimau, serigala, singa dsb. Kalau ada anak kecil yang menangis dan menjerit ketika didatangi seeokor kucing, maka Ayyasy justru menangis karena si kucing tidak mau mendekat.

Sebenarnya masih banyak lagi cerita-cerita mengagumkan tentang Ayyasy, yang Alhamdulillah sempat merasakan “sekolah dalam perut”. Dan saya yakin, ada begitu banyak cerita menakjubkan dari anak-anak lain yang juga berkesempatan menjadi murid sebelum terlahir ke dunia.

Bagi para ibu yang merencanakan hamil, sedang hamil, atau gadis yang punya calon keponakan, stimulasilah bayi Anda sejak dini agar generasi qur’ani yang jenius terlahir dari rahim Anda, biidznillah. Wallahul musta’an.


Oleh: Ummu Ayyasy Ar-Rantisi

Minggu, 15 Januari 2012

Cerita Tragis Dari Negeri SABA'

Cerita Tragis Dari Negeri SABA' - Mari sejenak kita renungkan ayat ini: "Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Allah) ditempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kepada mereka) dikatakan, "Makanlah olehmu dari rizki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". [QS. Saba': 15]

Negeri aman makmur kerta raharja, gemah ripah loh jinawi, segalanya bisa diperoleh dengan mudah dan murah, rakyat hidup tenang dan tentram, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, barangkali itulah gambaran yang dicitakan oleh rakyat Indonesia. Tapi rasanya bukan rakyat Indonesia yang mencitakan demikian. Cita-cita ini menjadi angan bagi seluruh manusia yang hidup di jagad ini, meskipun hanya sekian persen saja dari mereka yang bener-bener mengalaminya.
Saya rasa gambaran masih jauh dibanding negeri Saba' yang dikisahkan dalam Al Qur'an. Pada hari ini wilayah negeri Saba' berada dalam teritorial republik Yaman. Meskipun telah berumur ribuan tahun , sisa-sisa kehidupan Saba' saat ini masih dapat kita kunjungi. Negeri Saba' adalah satu-satunya negeri yang mengalami kondisi baldatun thayyibatun seperti dikisahkan Al Qur'an, di sini saya tidak menyebutkan rabbun ghafur karena setiap saat Allah adalah Maha Pengampun, tidak hanya mengampuni negeri Saba' saja. Seperti apa kondisi negeri Saba' saat itu? kita simak tafsir thabari tentang negeri Saba', "di negeri itu ada dua kebun yang besar dan subur, biasanya perempuan disana hanya meletakkan keranjang di kepalanya lalu berjalan di kebun itu, keranjang akan segerapenuh tanpa memetik buah itu dari pohonnya." (Tafsir Thabari surat Saba' ayat 15 jilid 20 hal 375. Cet. Ar risalah th 2000)
Bisa dibayangkan betapa gemah ripah loh jinawi-nya negeri Saba'. Buah-buahan memenuhi keranjang tanpa disentuh tangan. Cukup menaruh keranjang di atas kepala dan berjalan menabrak ranting pohon, keranjang akan segera penuh dengan buah. Ini adalah gambaran suburnya tanah di negeri Saba'.Pohon pun merunduk karena buahnya terlalu banyak, hingga mencapai sedikit di atas kepala manusia.
Tafsir thabari tentang negeri Saba', "Di negeri mereka tidak terdapat nyamuk, lalat, kutu, kalajengking dan ular"(Idem hal 377). Nyamuk, lalat, kutu dan ular adalah pelambangan hewan pengganggu. Artinya saat itu rakyat negeri Saba' tidak pernah terganggu tidurnya oleh gigitan nyamuk. Saat itu tidak ada warga negeri Saba' penyakit DB atau DBD juga malaria. Disana tidak ada pabrik racun nyamuk, hingga paru-paru mereka tidak ikut menghirup racun yang diperuntukkan bagi nyamuk.
Saat itu penyakit jarang sekali menyerang, karena hewan-hewan pembawa penyakit tidak berkeliaran di sekitar manusia. Mengapa? karena memang tidak ada. Barangkali tikus juga tidak pernah ditemukan di sana (di sekitar perumahan manusia). Apakah mungkin dunia kita saat ini bebas dari nyamuk? mungkinkah kita menyelamatkan bumi dari gangguan tikus.
Nyamuk dan tikus hampi menjajah seluruh pemukiman kita. 90% rumah di Indonesia telah menjadi jajahan tikus dan nyamuk. Barangkali hanya apartemen tinggi menjulang yang tidak dijamah oleh nyamuk dan tikus, apalgi ular dan kalajengking. Bukan tak mungkin istana negara masih belum steril dari tikus. Mungkin kamar presiden dan wakilnya masih perlu disemprot tiap malam supaya bebas dari serangan nyamuk.

Kamis, 08 Desember 2011

Kajian hadist Dikalangan Orientalis

Para pakar berbeda pendapat tentang kapan dan siapa orang barat pertama kali yang mengenal Islam. Ada yang berpendapat bahwa hal itu terjadi pada waktu perang Mu'tah (tahun 8 H) kemudian perang Tabuk (tahun 9) di mana terjadi kontak pertama kali antara orang-orang Romawi dengan kaum muslimin. Sementara pakar lain berpendapat bahwa hal itu terjadi ketika meletus perang antara kaum muslimin dan kaum Nasrani di Andalus (Spanyol), terutama setelah Raja Alphonse VI menguasai Toledo pada tahun 488 H/1085 M. Ada juga yang berpendapat bahwa hal itu terjadi ketika orang-orang Barat merasa terdesak oleh penaklukan Islam, terutama setelah jatuhnya Konstantinopel (Istanbul) pada tahun 857 H/1453 M ke tangan kaum muslimin di mana kemudian mereka memasuki Wina. Orang Barat merasa perlu untuk membendung ekspansi ini, sekaligus mempertahankan eksistensi kaum Nashrani. Sementara itu ada pula pakar yang berpendapat lain.

Namun sejarah mencatat bahwa orang-orang seperti Jerbert de Oraliac (938-1003 M), Adelard of Bath (1070)-1135 M), Pierre le Venerable (1094-1156 M), Gerard de gremona (1114-1187 M), dan Leonardo Fibonacci (1170-1241 M) pernah tinggal di Andalus dan mempelajari Islam di kota-kota seperti Toledo, Cordova, Sevilla. Pulang dari Andalus yang saat itu masih dikuasai oleh umat Islam mereka menyebarkan ilmunya di daratan Eropa. Misalnya Jerbert de Oraliac yang kemudian terpilih sebagai Paus Silvestre II (999-1003) mendirikan dua sekolah Arab di Roma dan Perancis. Bahkan Robert of Cheter (populer antara tahun 1141-1148 M) dan kawannya yang bernama Hermann Alemanus (w.1172 M) setelah pulang dari Andalus, mereka menerjemahkan al-Qur'an atas saran dari Paus Silvestre II.

Penerjemahan al-Qur'an ke dalam bahasa Latin ini dibantu oleh dua orang Arab dan selesai pada tahun 1143 M. Dan ini merupakan terjemahan al-Qur'an yang pertama dalam sejarah. Nama-nama di atas tercatat sebagai orang-orang Eropa yang pertama kali melakukan kajian tentang Islam yang kemudian lazim dikenal sebagai orientalisme. Prof. Dr. M.M. Azami, Guru Besar Ilmu Hadis di Universitas King Saud, Saudi Arabia, menyatakan bahwa sarjana Barat yang pertama kali melakukan kajian Hadis kemungkinan adalah Ignaz Goldziher, seorang orientalis Yahudi yang lahir di Hongaria dan hidup antara tahun 1850-1921 M.

Pada tahun 1890 ia menerbitkan hasil penelitiannya tentang Hadis Nabawi dalam sebuah buku berjudul Muhammedanische Studien (Studi Islam). Sejak itu hingga sekarang buku ini menjadi kitab suci di kalangan orientalis.

Kurang lebih enam puluh tahun setelah terbitnya buku Goldziher, Joseph Schacht juga orientalis Yahudi menerbitkan hasil penelitiannya tentang Hadis dalam sebuah buku berudul The Origins of Muhammadan Jurisprudence. Konon, lebih dari sepuluh tahun ia melakukan penelitian Hadis. Dan sejak itu (tahun 1950 M), buku Schacht ini menjadi kitab suci kedua di kalangan orientalis. Dibanding dengan Goldziher, Schacht memiliki "keunggulan" karena Schacht sampai pada kesimpulan "meyakinkan" bahwa tidak ada satupun Hadis yang otentik dari Rasulullah, khususnya Hadis-hadis yang berkaitan dengan hukum Islam, sementara Goldziher hanya sampai pada kesimpulan "meragukan" otentisitas Hadis. Setelah Goldziher dan Schacht, kajian Hadis memasuki periode Pasca-Goldziher.

Pada masa ini, para orientalis banyak yang melakukan kajian Hadis. Namun penelitian dan kajian mereka tidak memiliki bobot ilmiah yang signifikan.

Kajian dan penelitian mereka lebih merupakan sebagai upaya mengutip pribahasa Arab "yanfukhu fi al-ramad" (meniup arang), yaitu mengulang-ulang kajian yang telah ada sebelumnya.

Memburuk-burukkan Islam Orientalisme sejak semula telah memberikan perhatian kepada penyelidikan Hadis. Motivasi perhatian itu dapat dicari pada beberapa factor, antara lain dan yang mungkin terkuat adalah bahwa usaha untuk memburuk-burukkan Islam melalui penelitian Hadis lebih mudah dari pada melalui penelitian al-Qur'an. Adanya keinginan untuk mendiskreditkan Islam ini telah mengakibatkan banyak kekeliruan dalam penyelidikan Hadis hingga saat ini.

Gambaran yang sangat negatif dan prasangka yang berlebihan telah menyesatkan hampir semua kaum orientalis, kecuali beberapa sarjana yang berpikiran jernih dan bersifat obyektif dalam melakukan penyelidikan Hadis. Dan tampaknya baik Ignaz Goldziher maupun Joseph Schacht memiliki sasaran yang sama, yaitu ingin melecehkan Hadis agar ia tidak dapat dipakai sebagai rujukan umat Islam . Keduanya memiliki tesis yang menyatakan bahwa Hadis bukan sesuatu yang otentik dari Rasulullah, melainkan sesuatu yang lahir pada abad I dan II hijri, yang kesemuanya merupakan bikinan ulama. Kiat-kiat Orientalis Dalam rangka mencapai sasarannya, yaitu melecehkan dan menggusur eksistensi Hadis, kaum orientalis melakukan kiat-kiat antara lain sebagai berikut: 1. Mengubah Teks-teks Sejarah Di antara tokoh-tokoh ulama Hadis yang menjadi incaran pelecehan Goldziher adalah Ibn Syihab al-Zuhri (w. 123 H). disamping dituduhnya sebagai pemalsu Hadis, Goldziher juga mengubah teks-teks sejarah yang berkaitan dengan Ibnu Syihab al-Zuhri, sehingga timbul kesan bahwa al-Zuhri mengakui bahwa dirinya memang pemalsu Hadis. Menurut Goldziher, al-Zuhri mengatakan; Para penguasa itu telah memaksa kami untuk menulis Hadis. Kata ahadits dalam kutipan Goldziher tidak menggunakan "al" yang dalam bahasa Arab menunjukkan sesuatu yang telah definitive (ma'rifah).

Sementara dalam teks yang asli, seperti yang terdapat dalam kitab Ibn Sa'd dan Ibn 'Asakir, adalah al-ahadits yang berarti Hadis-hadis yang telah dimaklumi ada secara definitif, yaitu Hadis-hadis yang berasal dari Rasulullah.

Jadi pengertian ucapan al-Zuhri yang asli adalah bahwa para pejabat atau penguasa itu telah memaksanya untuk menuliskan Hadis-hadis yang pada saat itu sudah ada tapi belum terhimpun dalam satu buku.

Sementara pengertian ucapannya dalam kutipan Goldziher adalah bahwa para pejabat itu telah memaksanya untuk menuliskan Hadis-hadis yang pada saat itu belum ada.
Dengan kata lain, al-Zuhri dipaksa oleh para penguasa itu untuk membuat Hadis-hadis palsu.

2. Membuat Teori Rekayasa Untuk memperkuat tuduhannya bahwa apa yang dikenal sebagai Hadis adalah bukan berasal dari Rasulullah, tetapi bikinan ulama abad I dan II hijri, Schacht membuat teori tentang rekonstruksi terjadinya sanad Hadis. Teorinya kemudian dikenal dengan nama teori "Projecting Back" (Proyeksi belakang).

Menurut Schacht, hukum Islam belum eksis pada masa al-Sya'bi (w. 110 H). Ini artinya bahwa apabila bahwa apabila terdapat Hadis yang berkaitan dengan hukum Islam, maka Hadis-hadis itu adalah buatan orang-orang yang hidup sesudah al-Sya'bi. Schacht berpendapat bahwa hukum Islam baru dikenal semenjak masa pengangkatan para qadhi (hakim agama). Para Khalifah dahulu tidak pernah mengangkat qadhi.

Pengangkatan qadhi baru dilakukan pada masa Dinasti Bani Umayyah. Kira-kira pada akhir abad I hijri, pengangkatan qadhi itu ditujukan kepada "orang-orang spesialis" yang berasal dari kalangan taat beragama. Karena jumlah orang-orang ini bertambah banyak, maka akhirnya mereka berkembang menjadi kelompok aliran fiqh klasik (madzhab). Hal ini terjadi pada awal abad pertama hijri. Keputusan-keputusan hukum yang diberikan pada qadhi memerlukan legitimasi dari orang-orang yang memiliki otoritas yang lebih tinggi. Karenanya, mereka tidak menisbahkan (mengaitkan) keputusan-keputusan itu kepada diri sendiri, melainkan kepada tokoh-tokoh sebelumnya. Misalnya, orang-orang Iraq menisbahkan pendapat-pendapat mereka kepada Ibrahim al-Nakha'i (w. 95 H). Pada perkembangan berikutnya, pendapat-pendapat qadhi itu tidak hanya dinisbahkan kepada tokoh-tokoh terdahulu yang jaraknya masih dekat, melainkan dinisbahkan kepada tokoh-tokoh yang lebih terdahulu, misalnya Masruq. Langkah berikutnya untuk memperoleh legitimasi yang lebih kuat, pendapat-pendapat itu dinisbahkan kepada tokoh yang memiliki otoritas yang lebih tinggi, misalnya Shahabat Abdullah bin Mas'ud. Dan pada ronde terakhir, pendapat-pendapat itu dinisbahkan kepada Nabi Muhammad. Inilah rekonstruksi terbentuknya sanad Hadis menurut Prof. Dr. Joseph Schacht, yaitu dengan memproyeksikan pendapat-pendapat itu kepada tokoh-tokoh di belakang (Projecting Back). Teori rekayasa ini bertujuan untuk memperkuat tuduhannya bahwa apa yang disebut sanad Hadis itu adalah palsu. Begitu pula mantan atau materi Hadisnya, karena kesemuanya adalah ciptaan orang-orang belakangan.




Sumber : Prof. DR. Ali Mustafa Yaqub, MA { Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Al-Qur'an Jakarta } di publikasi di waspada online