Selasa, 12 Mei 2009

Cara Cepat Meraih Keimanan

PERTANYAAN 1
BAGAİMANA MEMAHAMİ KEBERADAAN ALLAH?

Tumbuhan, binatang, lautan, gunung-gunung, dan manusia disekitar kita, dan semua jasad renik yang tidak kasat mata – hidup ataupun mati, merupakan bukti nyata adanya Kebijakan Agung yang menciptakannya. Demikian pula dengan kesetimbangan, keteraturan dan penciptaan sempurna yang nampak di seluruh jagat. Semuanya membuktikan keberadaan Pemilik pengetahuan agung, yang menciptakannya dengan sempurna. Pemilik kebijakan dan pengetahuan agung ini adalah Allah.
Sistem-sistem sempurna yang diciptakanNya serta sifat-sifat yang mengagumkan pada setiap mahluk, hidup maupun mati, menimbulkan kesadaran akan keberadaan Allah. Kesempurnaan ini tertulis dalam Al-Qur’an:

Dia menciptakan tujuh langit yang berlapis-lapis. Tak akan ditemui sedikit cacatpun dari ciptaanNya. Perhatikan berkali-kali - apakah engkau melihat kekurangan padanya? Lalu, perhatikanlah sekali lagi. Matamu akan silau dan lelah! (Surat Al-Mulk: 3-4)

PERTANYAAN 2
BAGAİMANA CARA MENGENAL ALLAH?

Ciptaan yang sempurna di seluruh jagat raya menunjukkan kekuasaan Allah Yang Maha Agung.
Allah sendiri telah memperkenalkan diriNya kepada kita melalui Al-Qur’an - wahyu yang diturunkan kepada manusia sebagai petunjuk yang benar bagi kehidupan. Semua sifat-sifat Allah yang mulia disampaikan kepada kita di dalam Al-Qur’an. Dia Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, Maha Meliputi seluruh alam, Maha Melihat dan Maha Mendengar atas segala sesuatu. Dia lah Pemilik dan Tuhan satu-satunya atas langit dan bumi dan segala sesuatu di antaranya. Dia lah penguasa seluruh kerajaan langit dan bumi.

Dialah Allah – tiada tuhan selain Dia. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dia lah Allah – tiada tuhan selain Dia. . . . MilikNya segala nama-nama yang baik. Segala yang di langit dan di bumi bertasbih kepadaNya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al-Hasr: 22-24)


PERTANYAAN 3
MENGAPA KİTA DİCİPTAKAN?

Dalam Al-Qur’an Allah menyebutkan mengapa kita diciptakan:

Aku ciptakan jin dan manusia semata-mata untuk menyembahKu. (Surat
Az-Zariyat: 56)

Seperti disebutkan dalam ayat ini, keberadaan manusia di bumi ini semata-mata untuk menjadi hamba Allah, untuk menyembahNya dan untuk memperoleh ridhaNya. Penghambaan manusia kepada Allah merupakan batu ujian selama ia hidup di muka bumi.


PERTANYAAN 4
MENGAPA KITA DIUJI?

Allah menguji manusia di muka bumi untuk memisahkan antara mereka yang beriman dan mereka yang tidak beriman, serta untuk menentukan siapa yang terbaik amal perbuatannya. Oleh karena itu, pengakuan seperti “aku beriman” tanpa bukti tindakan yang sesuai dengannya tidak lah cukup. Di sepanjang hayatnya, manusia diuji dalam hal keimanan dan keta’atannya kepada Allah, termasuk kegigihannya dalam memperjuangkan agama Allah. Pendek kata, diuji dalam ketabahan sebagai hamba Allah dalam berbagai kondisi dan lingkungan yang dikehendakiNya. Ini dinyatakan Allah dalam ayat berikut:

Dia Yang Mematikan dan Menghidupkan untuk menguji siapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Surat Al-Mulk: 2)


PERTANYAAN 5
BAGAIMANA CARA MENGABDI KEPADA ALLAH?

Menjadi hamba Allah berarti menyerahkan seluruh hidup kita untuk tujuan mencapai kehendak dan ridhaNya. Yakni beramal sebaik mungkin tanpa henti untuk mendapatkan ridha Allah, hanya takut kepada Allah dan mengarahkan seluruh pikiran dan perkataan serta perbuatan untuk tujuan tersebut. Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa penghambaan kepadaNya meliputi seluruh kehidupan individu:

Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku dan ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.’ (Surat Al-An’am: 162)


PERTANYAAN 6
MENGAPA AGAMA DİPERLUKAN?

Yang pertama kali harus dilakukan oleh seseorang yang meyakini keberadaan Allah adalah mempelajari apa-apa yang diperintahkan dan hal-hal yang disukai Penciptanya. Dia lah yang memberinya ruh dan kehidupan, makanan, minuman dan kesehatan. Selanjutnya dia harus mengabdikan seluruh hidupnya untuk patuh kepada perintah-perintah Allah dan mencari ridhaNya.
Agama lah yang membimbing kita kepada moral, perilaku dan cara hidup yang diridhai Allah. Allah telah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa orang yang patuh kepada agama berada di jalan yang benar, sedangkan yang lainnya akan tersesat.

Dia yang dadanya terbuka untuk Islam mendapat cahaya dari Tuhannya. Sungguh celaka orang-orang yang berkeras untuk tidak mengingat Allah! Mereka dalam kesesatan yang nyata. (Surat az-Zumar: 22)


PERTANYAAN 7
BAGAIMANA CARA MENJALANKAN AGAMA (DIEN)?

Orang yang beriman kepada Allah dan menghambakan diri kepadaNya, mengatur hidupnya agar sesuai dengan seruan Allah dalam Al-Qur’an. Dia menjadikan agama sebagai petunjuk hidupnya. Patuh kepada hal-hal yang baik menurut hati nuraninya, dan meninggalkan segala yang buruk yang ditolak hati nuraninya.
Allah menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa Dia menciptakan manusia agar siap untuk menghidupkan agamaNya:

Maka, teguhkanlah pengabdianmu kepada Agama yang benar yang Allah ciptakan untuk manusia. Tiada yang mampu merubah ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. (Surat Ar-Rum: 30)


PERTANYAAN 8
DAPATKAH MORAL TEGAK TANPA AGAMA?

Pada lingkungan masyarakat yang tak beragama, orang cenderung melakukan beragam tindakan yang tak bermoral. Perbuatan buruk seperti penyogokkan, perjudian, iri hati atau berbohong merupakan hal yang biasa. Hal demikian tidak terjadi pada orang yang ta’at kepada agama. Mereka tidak akan melakukan semua perbuatan buruk tadi karena mengetahui bahwa ia harus mempertanggungjawabkan semua tindakannya di akhirat kelak.
Sukar dipercaya jika ada orang mengatakan, “Saya ateis namun tidak menerima sogokan”, atau “Saya ateis namun tidak berjudi”. Mengapa? Karena orang yang tidak takut kepada Allah dan tidak mempercayai adanya pertanggungjawaban di akhirat, akan melakukan salah satu hal di atas jika situasi yang dihadapinya berubah.
Seseorang yang mengatakan, “Saya ateis namun tidak berjinah” cenderung melakukannya jika perjinahan di lingkungan tertentu dianggap normal. Atau seseorang yang menerima sogokan bisa saja beralasan, “Anak saya sakit berat dan sekarat, karenanya saya harus menerimanya”, jika ia tidak takut kepada Allah. Di negara yang tak beragama, pada kondisi tertentu maling pun bisa dianggap sah-sah saja. Contohnya, masyarakat tak beragama bisa beranggapan bahwa mengambil handuk atau perhiasan dekorasi dari hotel atau pusat rekreasi bukanlah perbuatan pencurian.
Seorang yang beragama tak akan berperilaku demikian, karena ia takut kepada Allah dan tak akan pernah lupa bahwa Allah selalu mengetahui niat dan pikirannya. Dia beramal setulus hati dan selalu menghindari perbuatan dosa.
Seorang yang jauh dari bimbingan agama bisa saja berkata “Saya seorang ateis namun pema’af. Saya tak memiliki rasa dendam ataupun rasa benci”. Namun sesuatu hal dapat terjadi padanya yang menyebabkannya tak mampu mengendalikan diri, lalu mempertontonkan perilaku yang tak diinginkan. Dia bisa saja melakukan pembunuhan atau mencelakai orang lain, karena moralnya berubah sesuai dengan lingkungan dan kondisi tempat tinggalnya.
Sebaliknya, orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak kan pernah menyimpang dari moral yang baik, seburuk apapun kondisi lingkungannya. Moralnya tidak “berubah-ubah” melainkan tetap kokoh. Orang-orang beriman memiliki moral yang tinggi. Sifat-sifat mereka disebut Allah dalam ayatNya:

Mereka yang teguh dengan keyakinannya kepada Allah dan tidak mengingkari janji; yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya dan takut kepada Tuhan mereka dan takut pada hisab yang buruk; mereka yang sabar untuk mencari perjumpaan dengan Tuhan mereka, dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian harta yang kami berikan kepadanya secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, menolak kejahatan dengan kebaikan. Merekalah yang mendapat kedudukan yang tinggi. (Surat Ar-Ra’d: 20-22)


PERTANYAAN 9
APA YANG TERJADI DENGAN SISTEM SOSIAL JIKA TIDAK ADA AGAMA?

Konsep pertama yang akan hilang pada sebuah lingkungan tak beragama adalah konsep keluarga. Nilai-nilai yang menjaga keutuhan keluarga seperti kesetiaan, kepatuhan, kasih-sayang dan rasa hormat akan ditinggalkan sama sekali. Harus diingat bahwa keluarga merupakan pondasi dari sistem kemasyarakatan. Jika tata nilai keluarga runtuh, maka masyarakat pun akan runtuh. Bahkan bangsa dan negara pun tidak akan ada lagi, karena seluruh nilai moral yang menyokongnya telah musnah.
Lebih jauh lagi, tak akan ada lagi rasa hormat dan kasih-sayang terhadap orang lain. Ini mengakibatkan anarki sosial. Yang kaya membenci yang miskin, yang miskin membenci yang kaya. Angkara murka tumbuh pada mereka yang merasa dirintangi, hidup susah atau miskin. Atau menimbulkan agresi terhadap bangsa lain. Karyawan bersikap agresif kepada atasannya. Demikian pula atasan kepada bawahannya. Para bapak berpaling dari anaknya, dan anak berpaling dari bapaknya.
Sebab dari pertumpahanan darah yang terus-menerus dan “berita-berita kriminalitas” di surat kabar adalah ketiadaan agama. Setiap hari dapat kita baca tentang orang-orang yang saling bunuh karena alasan yang sangat sepele.
Orang yang mengetahui bahwa ia akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak, tidak akan melakukan pembunuhan. Dia tahu bahwa Allah melarang manusia melakukan kejahatan. Ia selalu menghindari murka Allah karena rasa takutnya kepadaNya.

Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya. Dan berdo’alah kepadaNya dengan rasa takut dan harapan. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (Surat al-A’raf: 56)

Tindakan bunuh diri pun disebabkan oleh ketiadaan agama. Orang yang melakukan bunuh diri sama saja dengan melakukan pembunuhan. Orang yang hendak bunuh diri karena ditinggal pacar, misalnya, harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut sebelum melakukannya: Apakah ia akan melakukan bunuh diri jika pacarnya menjadi cacat? atau menjadi tua? atau jika wajah pacarnya terbakar? Tentunya tidak. Dia terlalu berlebihan menilai pacarnya seolah sebanding dengan Allah. Bahkan menganggap pacarnya lebih penting dari Allah, lebih penting dari hari akhirat dan dari agama. Ia lebih mempertaruhkan jiwanya bagi pacarnya tersebut dibanding bagi Allah.
Orang yang dibimbing Al-Qur’an tidak akan melakukan hal semacam itu, bahkan tidak akan terlintas sedikitpun dalam benaknya. Seorang yang beriman menyerahkan hidupnya hanya untuk keridhaan Allah, dan menjalani dengan sabar segala kesusahan dan masalah yang Allah ujikan padanya di dunia ini. Ia pun tidak lupa bahwa kesabarannya itu akan mendapatkan balasan berlipat ganda baik di dunia maupun di akhirat.
Pencurian pun merupakan hal yang sangat biasa pada masyarakat yang tak beragama. Seorang pencuri tak pernah berpikir seberapa besar kesusahan yang ditimbulkannya terhadap orang yang dicurinya. Harta yang dikumpulkan korbannya puluhan tahun diambilnya dalam semalam saja. Ia tak peduli seberapa besar kesusahan yang akan diderita korbannya. Mungkin saja ia pernah sadar dan menyesali perbuatannya yang telah menimbulkan kesusahan pada orang lain. Jika tidak, keadaannya menjadi lebih buruk. Itu berarti bahwa hatinya telah membatu dan selalu cenderung untuk melakukan segala tindakan yang tak bermoral.
Dalam masyarakat yang tak beragama, nilai-nilai moral seperti keramahan, mau berkorban untuk orang lain, solidaritas dan sikap murah hati telah lenyap sama sekali. Orang-orangnya tidak menghargai orang lain sebagaimana layaknya manusia. Bahkan ada yang memandang orang lain sebagai mahluk yang berevolusi dari kera. Tak satu pun dari mereka mau menerima, melayani, menghargai atau memberikan sesuatu yang baik kepada orang lain. Apalagi terhadap mereka yang dianggapnya sebagai berasal dari kera.
Orang-orang yang berpikiran seperti ini tidak menghargai orang lain. Tak satu pun memikirkan kesehatan, kesejahteraan atau kenyamanan orang lain. Mereka tak peduli jika orang lain terluka, atau pernah berusaha agar orang lain terhindar dari kecelakaan semacam itu.
Di rumah sakit, misalnya, orang yang hampir meninggal dibiarkan begitu saja terlentang di ranjang-gotong dalam jangka waktu yang tak tentu; tak seorangpun pun peduli kepadanya. Contoh lain misalnya, pemilik restoran yang menjalankan restorannya tanpa peduli dengan kebersihan. Tempatnya yang kotor dan tidak sehat tak digubrisnya, tidak peduli dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan terhadap kesehatan orang lain yang makan di sana. Ia hanya peduli kepada uang yang dihasilkannya. Ini hanya sebagian kecil contoh yang kita temui sehari-hari.
Logikanya, orang hanya baik terhadap orang lain jika bisa mendapat imbalan yang menguntungkan. Namun bagi mereka yang menjalankan standar moral Al-Qur’an, menghargai orang lain merupakan pengabdian kepada Allah. Mereka tak mengharapkan imbalan apa pun. Semuanya merupakan usaha untuk mencari ridha Allah dengan terus-menerus melakukan amal baik, dan berlomba-lomba dalam kebaikan.


PERTANYAAN 10
APA MANFA’AT MATERIAL DAN SPIRITUAL BAGI MASYARAKAT JIKA MEREKA TA’AT PADA
AL-QUR’AN?

Perlu kami ingatkan bahwa pengertian agama di sini adalah cara hidup yang bermoral. Cara hidup yang disukai Allah. Cara yang dipilihNya dan yang paling tepat bagi semua jenis manusia. Cara hidup yang terbebas dari takhyul-takhyul dan mitos-mitos, dan sepenuhnya di bawah bimbingan Al-Qur’an.
Agama menciptakan lingkungan moral yang sangat aman dan nyaman. Sikap anarkis yang menyebabkan kerusakan pada bangsa negara terhenti sama sekali karena rasa takut kepada Allah. Orang tidak lagi melakukan tindakan yang merugikan ataupun berbuat kerusuhan. Orang-orang yang memegang nilai-nilai moral siap bangkit bagi bangsa dan negaranya serta tidak hendak berhenti untuk berkorban. Orang-orang semacam ini selalu berusaha untuk kesejahteraan dan keamanan negaranya.
Di dalam masyarakat yang mengamalkan moral Al-Qur’an, orang-orangnya sangat menghargai satu sama lain. Setiap orang selalu berusaha agar orang lain merasa nyaman dan aman, karena menurut ajaran islam, solidaritas, persatuan dan kerjasama merupakan hal yang sangat penting. Setiap orang merasa berkewajiban untuk mendahulukan kenyamanan dan kepentingan orang lain. Ayat berikut merupakan contoh moralitas dari orang-orang yang beriman:

Mereka yang lebih dulu tinggal di Madinah, dan telah beriman sebelum mereka datang, mencintai mereka yang datang kepada mereka untuk berhijrah, dan tak terbetik keinginan di hati mereka akan barang-barang yang diberikan kepada mereka, melainkan mendahulukan mereka dibanding dirinya sendiri meskipun mereka sendiri sangat membutuhkannya. Siapa yang terpelihara dari ketamakan, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Surat Al-Hashr: 9)

Dalam lingkungan yang orang-orangnya takut kepada Allah, setiap orang berusaha untuk kesejahteraan masyarakat. Tak seorang pun bersikap boros. Setiap orang bekerja sama dan bersatu padu sambil memperhatikan kepentingan orang lain. Hasilnya berupa masyarakat yang kaya dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi.
Masyarakat demikian kaya akan moral dan material. Kekacauan yang mengandung sikap memberontak sama sekali sirna. Setiap orang dapat mengekang hawa nafsunya dan setiap masalah diselesaikan dengan cara yang logis. Segala persoalan dipecahkan dengan kepala dingin. Dan kehidupan, karenanya, selalu aman tentram.


PERTANYAAN 11
APA MANFA’AT KETA’ATAN PADA MORAL AL-QUR’AN
BAGI KEHIDUPAN KELUARGA?

Al-Qur’an mewajibkan sikap hormat kepada ibu dan bapak. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

Telah Kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan masa menyapih selama dua tahun: ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang-tuamu. Hanya kepada-Ku lah kamu kembali. (Surah Luqman: 14)

Dalam keluarga yang mengamalkan moral Al-Qur’an tidak terdapat pertengkaran ataupun pertentangan. Selalu nampak sikap hormat yang tinggi kepada ibu, bapak dan anggota keluarga yang lain. Setiap orang hidup dalam lingkungan yang menyenangkan.


PERTANYAAN 12
APA MANFA’AT KETA’ATAN PADA MORAL AL-QUR’AN
BAGI SISTEM BERNEGARA?

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa keta’atan merupakan sifat yang positif. Seseorang yang memiliki moral Qur’ani akan sepenuhnya patuh dan hormat terhadap negaranya. Dalam masyarakat Islam, setiap orang berusaha untuk kesejahteraan negara dan bangsanya. Tidak pernah berontak terhadap negara, melainkan mendukung baik secara spiritual maupun material.
Dalam masyarakat yang terbentuk dari orang-orang yang takut kepada Allah, kasus-kasus hukum tak pernah sampai ke tingkat persidangan. Seperseribunya pun dari pelanggaran hukum yang terjadi pada masyarakat sekarang ini tak pernah dialami.
Mengatur negara menjadi jauh lebih mudah, karena pemerintah tidak perlu mengurus kasus-kasus anarki, terorisme, kejahatan, pembunuhan. Seluruh kekuatan pemerintah dipusatkan pada pengembangan dan peningkatan kesejahteraan negeri, di sektor dalam maupun luar negeri. Karenanya, menghasilkan negara yang sangat kuat.


PERTANYAAN 13
APA MANFA’AT KETA’ATAN PADA MORAL
AL-QUR’AN BAGI BIDANG SENI?

Orang-orang yang ta’at pada moral Al-Qur’an saling menghargai satu dengan lainnya. Mereka akan selalu berusaha menciptakan kondisi lingkungan yang telah disetujui bersama. Lingkungan yang indah dalam segala segi estetika. Karena rasa rindu pada surga, sarana-sarana dunia digunakan sepenuhnya untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan menyenangkan. Semuanya terasa indah di mata, di telinga dan di seluruh indra lainnya. Karenanya, seni dan estetika berkembang dalam semua aspek kehidupan mereka.
Lebih dari itu, orang yang ta’at kepada agama memiliki hati yang bersih. Karenanya tak ada tekanan dalam pikirannya, sehingga dapat menciptakan karya seni orisinil yang indah dan unik. Selain itu, karya mereka ditujukan untuk menyajikan keindahan dan untuk menyenangkan sesamanya yang ta’at, secara tulus hati dan sungguh-sungguh.


PERTANYAAN 14
APA MANFA’AT KETA’ATAN PADA MORAL
AL-QUR’AN BAGI SISTEM PENDIDIKAN?

Pertama-tama, menjalankan moral Al-Qur’an akan menghasilkan anak-anak dan pemuda yang dewasa dan bijaksana. Perilaku tak acuh tidak akan dimiliki oleh anak muda yang ta’at pada Al-Qur’an. Keta’atan pada Al-Qur’an, karenanya, menghasilkan generasi yang perilakunya baik, pikirannya terbuka, patuh, mau mengalah serta produktif. Dinamisme, gairah serta semangat mereka diarahkan pada perbuatan baik. Ketekunan dan daya pikir mereka berkembang. Dalam lingkungan demikian, pelajarnya tidak hanya mengutamakan kelulusan atau penghindaran dari hukuman, melainkan berkeinginan untuk memberikan kontribusi pada bangsa dan negaranya.
Tak pernah terdengar adanya pelanggaran disiplin di sekolah. Lingkungan pendidikannya sangat tentram, konstruktif dan produktif. Kerja sama antara guru dan pelajar berlandaskan pada kepatuhan, rasa hormat dan toleransi. Para pelajarnya menjadi sangat hormat dan patuh pada negara dan aparat keamanan. Demonstrasi-demonstrasi pelajar yang sering kita lihat sekarang ini tidak pernah terjadi karena memang tidak ada perlunya.


PERTANYAAN 15
APA MANFA’AT KETA’ATAN PADA MORAL
AL-QUR’AN BAGI LINGKUNGAN KERJA?

Dalam masyarakat yang menjalankan moral Al-Qur’an, lingkungan kerjanya mengandung sikap saling memahami, kerjasama dan keadilan. Pemberi kerja memperhatikan kesehatan karyawannya dan memelihara kesehatan lingkungan kerja dengan sangat baik. Dengan pikiran bahwa karyawan akan bekerja dalam waktu yang cukup lama, mereka selalu berusaha menciptakan fasilitas kerja yang indah dan menarik. Karyawannya digaji dengan upah yang layak. Tak satu karyawanpun mengalami perlakuan buruk. Pihak atasan selalu memperhatikan kondisi keluarga setiap karyawan. Mereka selalu bersungguh-sungguh dan berusaha melindungi keluarga karyawan. Tak pernah ada penindasan dari yang kuat terhadap yang lemah. Perilaku tak bermoral seperti ucapan dengki, atau mencegah keberhasilan orang lain karena rasa cemburu, tak pernah terjadi.
Hubungan antara pemberi kerja dan karyawan bukan berdasarkan pada kepentingan pribadi dan akal-akalan, melainkan berdasarkan kerjasama dan rasa saling percaya. Karyawan memperhatikan kepentingan dan tujuan perusahaan. Mereka tak pernah boros dan berpikiran bahwa “Bos memang layak membayarnya”. Mereka akan bekerja sebaik-baiknya. Moral yang baik membuatnya tak pernah disalahkan, bahkan dilindungi oleh atasan.

Sifat yang Terpuji Menurut Al-Qur`an

Sifat yang Terpuji Menurut Al-Qur`an


Di dalam Al-Qur`an, Allah memaparkan dengan rinci tentang sifat, moralitas tertinggi, dan pola pikir khas orang-orang beriman. Perasaan takut kepada Allah yang menghunjam di dalam kalbu mereka, keyakinan mereka yang tak ter¬tan¬ding¬i dan upaya yang tak pernah goyah untuk mendapatkan rid¬ha-Nya, kepercayaan yang mereka gantungkan kepada Allah, se¬perti juga keterikatan, keteguhan, ketergantungan, dan ba¬nyak lagi kualitas superior serupa, semuanya disuguhkan Al¬-Qur`an. Lebih jauh, di dalam Kitab-Nya, Allah menyanjung kualitas-kualitas moral semacam itu, seperti keadilan, ka¬sih sayang, rendah hati, sederhana, keteguhan hati, pe¬nye¬rah¬an diri secara total kepada-Nya, serta menghindari ucap¬an tak berguna.
Seiring dengan penyajian rinci tentang orang beriman mo¬del ini, Al-Qur`an juga bertutur mengenai kehidupan orang-orang beriman pada masa dahulu dan bercerita kepada ki¬ta ba¬gaimana mereka berdo’a, berperilaku, berbicara, baik di kalangan mereka sendiri maupun dengan orang-orang lain di luar mereka, dan dalam menanggapi berbagai peristiwa. Me¬lalui perumpamaan ini, Allah menarik perhatian kita kepada sikap dan perbuatan yang disenangi-Nya.
Titik pandang sebuah masyarakat yang jauh da¬ri moralitas Al-Qur`an (masyarakat jahiliyah) terhadap ting¬kah laku yang secara sosial bisa diterima bisa saja ber¬ubah, sesuai de¬¬ngan tahapan waktu, suasana, budaya, peristiwa-peristiwa, dan manusianya sendiri. Akan tetapi, perilaku dari mereka yang ko¬koh berpegang pada ketetapan hukum Al-Qur`an tetap tak tergoyahkan oleh adanya perubahan kondisi, waktu, dan tem¬pat. Seseorang yang beriman senantiasa tunduk-patuh ke¬pa¬¬da perintah dan peringatan Al-Qur`an. Karena itulah, ia men¬c¬er¬¬minkan akhlaq terpuji.
Pada bagian ini, akan kami perlihatkan sejumlah contoh pe¬rilaku yang layak mendapat penghargaan sesuai penilaian Allah. Akan tetapi, kami tidak menguraikan semua kualitas pe¬¬¬rilaku terpuji dari orang-orang beriman yang secara panjang lebar telah terteradalam Al-Qur`an. Kami hanya memfo¬kus¬kan perhatian pada moralitas terpuji yang masih ter¬se¬lu¬bung dengan segala keagungan-keagungannya yang terpendam.

Konsep Kesucian
Allah menyeru orang-orang beriman supaya membersihkan (me¬nyucikan) diri mereka, yang sesuai dengan fitrah jiwa me¬reka dan sunnah alam. Kesucian dianggap sebagai satu bentuk lain dari ibadah orang beriman dan, dengan begitu, merupakan sa¬tu sumber kelapangan dan kesenangan yang besar bagi me¬re¬ka sendiri. Di dalam banyak ayat, Allah memerintah¬kan orang beriman agar memperhatikan kesucian jiwa dan ra¬ga. Nabi kita saw. juga menekankan pentingnya memelihara kesucian,
“Kebersihan adalah sebagian dari iman.” (HR Muslim)
Di bawah ini ada sejumlah rincian berkaitan dengan keber¬sihan.
1. Kesucian Jiwa
Pengertian qur`ani tentang kesucian berbeda makna dengan yang dipahami oleh masyarakat awam. Menurut Al-Qur`an, su¬ci adalah keadaan yang dialami dalam jiwa seseorang. De¬mikianlah, kesucian berarti seseorang telah sama sekali mem¬¬bersihkan dirinya dan nilai-nilai moral masyarakatnya, ben¬tuk pola pikirnya, dan gaya hidup yang bertentangan de¬ngan Al-Qur`an. Dalam hal ini, Al-Qur`an menganugerahkan ke¬¬te¬nangan jiwa kepada orang-orang beriman.
Tahap awal dari keadaan suci ini berwujud dalam pemikir¬an. Tak diragukan lagi, ini merupakan satu kualitas ter¬pen¬ting. Kesucian jiwa yang dialami manusia tersebut akan ter¬¬pan¬¬car dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian, mo¬ral terpuji orang tersebut akan nyata bagi siapa saja.
Manusia yang berjiwa suci akan menjauhkan pikirannya da¬ri segala bentuk kebatilan. Mereka tidak pernah berniat me¬nyakiti, cemburu, kejam, dan mementingkan diri sendiri, yang semuanya merupakan perasaan tercela yang diserap dan di¬tampilkan oleh orang-orang yang jauh dari konsep moral Al-Qur`an. Orang-orang beriman memiliki jiwa kesatria, kare¬na mereka merindukan moral terpuji. Inilah sebabnya, terle¬pas dari penampilan ragawi, orang-orang beriman pun me¬na¬ruh perhatian besar pada penyucian jiwa mereka—dengan cara men¬¬jauhi semua keburukan yang muncul dari kelalaian—dan mengajak orang lain untuk mengikuti hal yang serupa.

2. Kesucian Ragawi
Di dunia ini, orang-orang beriman berupaya membina suatu lingkungan yang mirip dengan surga. Di dunia ini, mere¬ka ingin menikmati segala sesuatu yang akan Allah anuge¬rah¬kan kepada mereka di surga. Sebagaimana kita pahami dari Al-Qur`an, kesucian ragawi merupakan salah satu dari kua¬li¬tas-kualitas yang dimiliki manusia surga. Ayat yang ber¬bu¬nyi, “... anak anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan,” (ath-Thuur [52]: 24) sudah otomatis menjelaskan hal itu. Sebagai tambahan, Al¬lah menginformasikan kepada kita dalam banyak ayat la¬in¬nya, bahwa di surga tersedia, “pasangan-pasangan hidup yang se¬nan¬tiasa suci sempurna.” (al-Baqarah [2]: 25)
Di ayat lain, Allah menekankan perhatian pada ke¬su¬ci¬an raga adalah yang merujuk pada Nabi Yahya a.s., “Kami anugerah¬kan kepadanya... kesucian dari Kami.” (Maryam [19]: 12-13)

3. Pakaian yang Bersih
Al-Qur`an juga merujuk pada pentingnya pakaian bersih, se¬perti dalam ayat, “Dan pakaianmu sucikanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.” (al-Muddatstsir [74]: 4-5)
Lebih jauh, kebersihan ragawi adalah hal yang penting, sebab hal ini me¬nun¬jukkan penghargaan seseorang kepada orang lain. Se¬sung¬guh¬nya, penghormatan pada orang lain mensya¬ratkan pemeliharaan tampilan fisik seseorang. Orang-orang beriman bukan sekadar menghindari kotoran, tapi juga mem¬¬berikan kesan rapi yang tak mencolok yang memperjelas besarnya rasa hormat mereka kepada orang lain. Salah satu cara untuk menunjukkan rasa hormat adalah memakai pakaian ber¬sih. Melalui Al-Qur`an, Allah memerintahkan kepada kita,

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid....” (al-A’raaf [7]: 31)

Dalam pemahaman ini, menjaga kebersihan raga dan kerapi¬an serta mengupayakan yang terbaik dalam berbagai hal, me¬rupakan kualitas yang disenangi Allah. Kualitas-kualitas se¬macam ini tidak diutamakan oleh orang-orang yang bodoh. Nabi kita saw. juga mempertegas pengesahan Allah akan kua¬li¬tas-kualitas seperti itu, sebagaimana disebutkan dalam ha¬dits,
“Seseorang bertanya, ‘Bagaimana tentang seseorang yang suka mengenakan pakaian dan sepatu yang indah-indah?’ Ra¬sulullah menjawab, ‘Semua ciptaan Allah adalah indah dan Dia menyukai keindahan.’” (HR Muslim)
Kita harus memperhatikan hal berikut ini. Umumnya, seti¬¬ap orang cenderung untuk berupaya sebaik mungkin memberi¬kan kesan terhadap sesuatu yang mereka anggap penting pada se¬ti¬ap pertemuan dengan orang lain. Demikian halnya orang ber¬iman, se¬su¬ai moralitas yang dikehendaki Al-Qur`an, me¬re¬ka tampak sa¬ngat mementingkan kerapian dengan segenap ke¬te¬li¬¬tiannya de¬ngan tujuan untuk menyenangkan Allah.
Orang beriman memang layak mendapatkan surga dan, di du¬nia ini, mereka terikat untuk selalu berupaya menjaga diri dan lingkungannya agar tetap bersih, sehingga mereka bi¬sa mendapatkan kesucian dan keindahan surga di dunia ini.

4. Memelihara Kebersihan Lingkungan
Umat Islam sangat berhati-hati dalam menjaga lingkungan terdekat mereka agar tetap bersih. Satu contoh tentang itu disebutkan dalam surah al-Hajj. Allah memerintah¬¬kan Na¬bi Ibrahim a.s. untuk memelihara Ka’bah agar tetap bersih un¬¬tuk orang-orang beriman yang berdo’a di sekitar tempat itu,

“Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Jangan¬lah kamu menyekutukan sesuatu pun dengan Aku dan su¬cikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ru¬ku dan sujud.’” (al-Hajj [22]: 26)

Sebagaimana dikehendaki ayat tersebut, kebersihan ling¬¬kungan tem¬pat suci yang sejenis (mushala, masjid, majelis taklim, Ed.) harus dipelihara, terutama sekali bagi orang-orang beriman lainnya yang hendak menunaikan ibadah un¬tuk mendapatkan ridha Allah. Karena itu, semua orang beriman yang mengikuti langkah Ibrahim a.s. harus menjaga tem¬pat tinggal mereka agar tetap bersih dan rapi, sebab hal itu dapat menyenangkan hati mereka.
Konsep qur`ani tentang kebersihan jelas berbeda dengan pe¬mahaman orang-orang yang tidak beriman. Allah memerintahkan orang-orang beriman supaya “bersih dan suci” baik lahir mau¬pun batin. Dengan kata lain, hal ini bukanlah bersih da¬lam pengertian klasik atau kuno, melainkan sebuah upaya ber¬kesinambungan.
Menurut kaidah ini, penggambaran Al-Qur`an tentang kehi¬dupan di surga juga bersifat perintah. Lingkungan surga su¬dah dibersihkan dari segala bentuk kotoran yang dapat kita li¬hat di sekitar kita. Surga adalah sebuah tempat yang pe¬nuh dengan kebahagiaan, dengan kebersihan yang sempurna. Tiap detail yang terwujud di sana berada dalam keserasian yang sempurna dengan setiap detail lainnya. Dalam cahaya ilus¬trasi seperti ini, insan beriman senantiasa harus berupa¬ya menjaga lingkungan mereka agar bersih dan mengalihkan ke¬nangan mereka pada tempat-tempat yang mengingatkan mereka ke¬pada surga.

5. Memakan Makanan yang Bersih
Mengonsumsi pangan bersih adalah satu perintah Ila¬hi¬ah yang harus selalu ada dalam kalbu semua makhluk beriman,

“Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, melainkan mereka menganiaya diri mereka sendiri.” (al-Baqarah [2]: 57)

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dan apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu meng¬¬ikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya se¬tan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah [2]: 168)

Sebagai tambahan, Allah memasukkan dalam hitungan kelom¬pok As-habul Kahfi untuk menunjukkan bahwa orang-orang ber¬¬iman cen¬derung kepada makanan bersih. Sebagaimana dapat kita baca,

“…Seorang di antara mereka berkata, ‘Tuhan kamu lebih me¬ngetahui berapa lama kamu sudah berada di sini. Utus¬lah salah seorang dari kamu ke kota dengan uang pe¬rakmu ini, agar dia bisa melihat makanan mana yang le¬bih baik, dan membawakan makanan itu untukmu….” (al-Kahfi [18]: 19)

Kita akan kembali ke topik ini pada bab lain dalam judul, “Makanan Bermanfaat yang Disebut di Dalam Al-Qur`an”.

Berlatih, Berenang, dan Air Minum
Perilaku lain yang disebutkan dalam Al-Qur`an tercantum di dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan ungkapan Nabi Ayyub a.s.,

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tu¬hannya, ‘Sesungguhnya, aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.’(Allah berfirman) ‘Hentakkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.’” (Shaad [38]: 41-42)

Dalam menanggapi keluhan kesulitan dan penderitaan, Allah menasihati Nabi Ayyub a.s. supaya “menghentakkan kaki”. Nasihat itu dapat dianggap satu pertanda yang berkena¬an dengan manfaat kegiatan olahraga dan berlatih.
Berlatih, khususnya melatih otot-otot panjang seperti ter¬dapat pada otot-otot kaki (sebagai contoh: gerakan-gerak¬an isometrik), melancarkan aliran darah dan, karena itu, me¬ningkatkan volume oksigen untuk masuk ke sel-sel tubuh. Se¬lain itu, berlatih me¬ngurangi elemen-elemen racun dari tu¬buh yang dapat melenyapkan penat, memberikan rasa lega dan kesegaran, dan memberikan kemampuan pada tubuh untuk mem¬perbesar resistensi terhadap mikroba. Latihan teratur ju¬ga menjaga urat-urat darah tetap bersih dan lebar, yang, dengan kondisi demikian, dapat mencegah: 1)penggumpalan pada urat-urat dan menurunkan risiko penyakit koroner arteri dan 2) mengurangi risiko diabetes dengan mempertahankan kadar gu¬la darah pada taraf tertentu dan meningkatkan jumlah ko¬les¬¬terol yang aman di dalam liver. Di samping itu, meng¬hen¬tak¬¬kan kaki ke tanah merupakan cara paling efektif untuk 3) me¬lepaskan arus listrik statis yang sudah menumpuk di dalam tu¬buh, yang kerap mengakibatkan badan kaku.
Sebagai tambahan, sebagaimana disebutkan ayat di atas, mandi diakui merupakan metode paling ampuh untuk menghilang¬kan kebekuan arus listrik di tubuh. Ia juga melenyapkan ke¬tegangan dan kerumitan pikiran, serta membersihkan badan. Karena itu, mandi merupakan satu penyembuhan efektif untuk stres dan banyak ketidakteraturan (gangguan) fungsi fisik dan ke¬ji¬wa¬an.
Ayat tadi juga menarik perhatian kita pada manfaat-man¬faat tak terhingga dari air minum. Hampir setiap fungsi ja¬ringan tubuh dipantau dan dikendalikan agar menyerap air se¬cara efisien melalui jalur pendistribusian. Fungsi-fungsi da¬ri banyak organ tubuh (misalnya otak, kelenjar peluh, perut, usus, ginjal, dan kulit) sangat bergantung pada kecukupan distribusi air. Memastikan bahwa tubuh mendapat ja¬¬tah air yang cukup tidak saja membuat tubuh berfungsi lebih berdaya guna, bahkan mungkin menolong seseorang terhin¬dar dari beragam masalah kesehatan. Peningkatan taraf kon¬sum¬si air telah terbukti membantu mengurangi berbagai ke¬luh¬an sakit kepala (migren, kolesterol darah ting¬gi, sakit sa¬luran rheumatoid penyebab rematik, dan tekanan darah ting¬gi. Sebagai tambahan pada beragam manfaat tersebut, air ju¬ga menghilangkan letih dan kantuk, sebab serapan air yang ter¬atur dan mencukupi membantu menghilangkan anasir ra¬cun dari tubuh.
Menaati semua anjuran ini, yang semuanya penting dan vi¬tal bagi kesehatan raga dan mental kita, insya Allah akan mem¬buahkan hasil terbaik.

Berjalan Kaki
Orang-orang congkak mengira sikap angkuh bisa menimbul¬kan rasa kagum manusia lain. Dan, dengan begitu, secara ber¬lebih-lebihan, mereka memamerkan gaya berjalan, ber¬bi¬ca¬ra, dan memandang dengan penuh sikap sombong. Tanda-tanda aro¬¬gansi semacam itu tampak nyata dari gaya berjalan se¬se¬orang.
Ayat-ayat yang merujuk kepada nasihat bijak Luq¬man kepada putra beliau mengungkapkan secara gamblang keangkuhan sikap dan penampilan seseorang,

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (ka¬rena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Luqman [31]: 18)

Dalam ayat lain, orang-orang beriman dianjurkan untuk ti¬dak berjalan dengan sikap angkuh,

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan som¬bong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak da¬¬pat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sam¬¬pai setinggi gunung.” (al-Israa` [17]: 37)

Dengan ayat-ayat ini, Allah memberitahukan kepada kita bah¬wa Dia tidak menyukai mereka yang sombong dan memperingat¬kan kita agar menjauhi sikap seperti itu. Kita harus se¬nantiasa ingat bahwa kesombongan setan, yang tampak dari tun¬tutannya bahwa dia lebih tinggi dari makhluk-makhluk la¬in¬nya ciptaan Allah, yang menyebabkan dia tersingkir dari ha¬dapan Allah. Orang beriman yang sadar akan keburukan kua¬li¬tas-kualitas seperti ini tentu saja menjauhi semua itu.
Tak seorang pun yang senang berada di sekitar orang som¬bong. Siapa pula yang merasa nikmat berdampingan dengan orang-orang semacam itu? Umumnya setiap orang mengetahui bahwa orang-orang angkuh dan merasa diri lebih tinggi derajat¬nya, dalam kenyataannya, tak lebih dari manusia biasa yang penuh dengan beragam ketidaksempurnaan dan kelemahan-ke¬lemahan. Akibatnya, orang sombong, meskipun menderita oleh keangkuhan dirinya sendiri, takkan pernah mencapai tu¬ju¬an untuk menikmati prestise di kalangan manusia lain di se¬kitarnya dan sering tercekam dalam kehinaan.
Al-Qur`an juga menekankan perhatian kita kepada kenyata¬an bahwa orang-orang beriman harus memiliki sikap ber¬ja¬lan yang tidak berlebih-lebihan atau mengada-ada, seba¬gai¬ma¬na yang disebutkan dalam ayat, “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan....” (Luqman [31]: 19) Di dalam mematuhi perintah Allah, manusia yang sederhana akan berjalan dengan si¬kap sederhana, dan dengan demikian meraih kemuliaan dalam pan¬dangan Allah dan orang-orang beriman seluruhnya.
Intonasi Suara
Tinggi-rendahnya (intonasi) suara adalah bagian penting dari ung¬kap¬an perasaan positif seseorang. Bagaimana se¬orang meng¬gu¬na¬kan intonasi mencerminkan kualitas orang bersangkutan. Bahkan, suara merdu sekalipun dapat menyakiti ji¬ka diartikulasikan dengan tidak sepatutnya. Allah menasiha¬ti hamba-hamba-Nya melalui ucapan Luqman,

“... lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya, seburuk-buruk su¬ara ialah suara keledai.” (Luqman [31]: 19)

Seseorang yang bi¬¬ca¬ra dalam suara keras atau menghardik orang lain tidak akan memberi kesan menyenangkan pada pi¬hak lain. Di samping itu, pada kebanyakan kasus, hal se¬per¬ti ini terasa tak tertahankan, seperti mendengarkan ra¬ung¬an keledai.
Dengan kata lain, cara orang bicara adalah hal yang pen¬ting. Suara orang yang sedang dirundung berang mungkin ter¬dengar tak mengenakkan, meskipun suara lelaki atau perem¬puan itu, dalam suasana normal, mungkin terasa sedap ditelinga. Sebaliknya juga begitu, seseorang dengan lantunan suara tak sedap bisa saja terdengar lebih merdu kalau meng¬ikuti nilai-nilai terpuji dari Al-Qur`an. Suara merdu, di pihak lain, mungkin saja terkesan menyerang dan tak ter¬ta¬hankan, jika orang itu angkuh dan berkesan menyakitkan. Karena suara orang tersebut, yang merupakan pantulan sifat ne¬gatif diri, baik lelaki atau perempuan, cenderung ber¬ke¬luh kesah dan menghasut.
Sebagaimana halnya suara, mereka yang berakhlaq mulia selalu me¬mi¬liki sifat rendah hati, santun, bersahaja, damai, dan kon¬struktif. Dengan sudut pandang positif dalam ke¬hidupan, mereka selalu ceria, bersemangat, cerah, dan gembira. Sifat sempurna ini, yang timbul dari kehidupan dengan akhlaq perilaku seperti dijelaskan dalam Al-Qur`an, termanifestasikan dalam lantun suara seseorang.

Luhur Budi
Al-Qur`an menginformasikan kepada kita bahwa manusia beriman pa¬da kenyataannya adalah orang-orang yang sangat bermurah ha¬ti. Akan tetapi, konsep Al-Qur`an tentang akhlaq mulia agak berbeda da¬¬ri yang secara umum ditemukan dalam masyarakat. Manusia me¬warisi sifat santun dari keluarga mereka atau menyerapnya dari lingkungan masyarakat sekitar. Akan tetepi, pengertian ini ber¬¬beda dari satu strata ke strata lain. Wujud keluhuran bu¬di yang berlandaskan nilai-nilai qur`ani, walau ba¬gai¬ma¬na¬pun, me¬le¬bihi dan di atas nilai dari pemahaman mana pun, ka¬rena ia tidak a¬kan pernah berubah, baik oleh keadaan mau¬pun manusia. Mereka yang menyerap unsur akhlaq mulia, se¬ba¬gai¬ma¬na pandangan Al-Qur`an, memandang setiap manusia se¬ba¬gai hamba-hamba Allah, dan karena itu memperlakukan mereka de¬ngan segala kebaikan, walaupun tabiat mereka mungkin saja ti¬dak sempurna. Orang-orang semacam ini menjauhi pe¬nyim¬pang¬¬an dan tingkah laku yang tidak patut, teguh dalam pen¬di¬rian, bahwa berketetapan dalam kebaikan mendatangkan kasih sayang Allah, sebagaimana ditandaskan dalam sebuah hadits,
“Allah itu baik dan menyukai kebaikan dalam segala hal.” (HR Bukhari dan Muslim)
Sebagaimana ditunjukkan ayat berikut, Allah mendorong ma¬nusia supaya berbuat baik dan santun kepada orang lain,

“Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari bani Is¬rael, ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan ber¬buat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah ka¬ta-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kalian, dan kamu selalu berpaling.” (al-Baqarah [2]:83)

Al-Qur`an menghendaki kebaikan kemutlakan. Dengan ka¬ta lain, manusia beriman tidak boleh berpaling dari perilaku ba¬ik, sekalipun kondisi lingkungannya tampak menginginkan ke¬¬burukan dan ketidaksenangan. Kelemahan fisik, kehabisan te¬na¬ga, atau kesukaran tidak akan pernah menghalangi mereka da¬¬ri keajekan mereka dalam kebaikan. Sementara itu, tak peduli mereka kaya atau miskin, menikmati kedudukan gemerlap atawa jadi orang dalam bui, manusia beriman memper¬la¬kukan setiap orang dengan baik, karena mereka sadar bahwa Nabi kita saw. menegaskan pentingnya tiap orang beriman untuk berbuat demikian, sebagaimana tersebut dalam hadits, “Manakala kebaikan ditambahkan pada sesuatu, itu akan mem¬perindahnya; apabila kebaikan ditarik keluar dari se¬suatu, itu akan meninggalkan cacat.”(HR Muslim). Mo¬ral¬itas agung ini diperkuat dalam ayat berikut, sebagaimana sudah diutarakan dalam bagian sebelumnya,

“... berbuat baiklah pada ibu bapak, kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan fakir miskin, serta ucapkanlah kata kata yang baik kepada manusia....” (al-Baqarah [2]: 83)

Orang-orang beriman juga harus sangat berhati-hati ter¬¬hadap cara mereka memperlakukan orang tua mereka sendiri. Di dalam Al-Qur`an, Allah memerintahkan supaya mereka diperlakukan dengan segala kebaikan,

“Dan Tuhanmu telah perintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pa¬da ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai ber¬umur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali ja¬ngan¬lah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah ke¬pa¬da mereka perkataan yang mulia.” (al-Israa` [17]: 23)

Satu contoh dalam surah Yusuf menegaskan pentingnya meng¬hormati orang tua. Nabi Yusuf a.s. pernah dipisahkan da¬ri keluarganya, untuk waktu lama, karena saudara-saudaranya menjebloskan beliau ke dalam sebuah sumur. Tak lama ke¬mu¬di¬an, beliau ditemukan oleh satu rombongan pedagang yang mem¬ba¬wanya ke Mesir dan menjualnya sebagai budak. Kemudian, ka¬rena dakwaan palsu, dia dijebloskan ke penjara selama bertahun-tahun, dan dibebaskan, hanya berkat pertolongan Allah, untuk diangkat menjadi bendahara kerajaan Mesir. Ke¬mu¬di¬an, setelah semua ini, beliau memindahkan seluruh ke¬lu¬ar¬ga¬nya dari Madyan ke Mesir dan menyambut mereka seperti ter¬lukis dalam ayat berikut,

“Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf merang¬kul ibu bapaknya dan dia berkata, ‘Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.’ Dan dia naikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana….” (Yusuf [12]: 99-100)

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa Nabi Yusuf a.s., ter¬lepas dari status terhormatnya, berperilaku yang luar biasa santun kepada kedua orang tuanya. Mengangkat keduanya ke atas singgasana, menandakan hormat dan cintanya kepada ke¬duanya, dan juga menunjukkan akhlaqnya nan mulia.

Ramah Tamah
Bagi umat beriman, yang mengikuti moralitas Al-Qur`an, me¬muliakan tamu mereka merupakan wujud kepatuhan pada salah sa¬tu perintah Allah serta satu kesempatan untuk mengaplikasi¬kan moralitas yang tinggi. Sebab itulah, hamba-hamba ber¬iman menyambut tamu-tamu mereka dengan penuh takzim.
Di dalam masyarakat yang tidak beriman, orang umumnya meng¬anggap tamu sebagai satu beban, baik dari sudut material maupun spiritual, karena mereka tidak dapat melihat ke¬ja¬di¬an-kejadian semacam itu sebagai kesempatan untuk men¬da¬pat¬kan kesenangan Allah dan memperagakan akhlaq mulia. Se¬ba¬liknya, orang yang tidak beriman beranggapan bahwa santun dan sopan pada tamu tak lebih dari merupakan keharusan ke¬ma¬s¬yarakatan. Hanya karena mengharapkan suatu imbalan ke¬ber¬untunganlah yang menggugah mereka untuk ramah dan santun pada tamu.
Al-Qur`an secara khusus menekankan perhatian agar manusia ber¬iman menunjukkan akhlaq mulia kepada tamu. Sebelum yang lain-lainnya, manusia beriman menyuguhkan hormat, cinta, da¬mai dan santun kepada setiap tamu. Sambutan biasanya di¬da¬¬sarkan pada mempersiapkan tempat dan kebutuhan-kebutuhan la¬in¬nya, yang tanpa ungkapan hormat, cinta, dan damai, ti¬dak bakal menyenangkan sang tamu. Di dalam ayat berikut, Allah mempertegas betapa Dia menyenagi kemolekan jiwa di atas apa pun selain itu,

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya, Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (an-Nisaa` [4]: 86)

Sebagaimana tersurat dalam ayat di atas, moralitas qur`ani mendorong ma¬nu¬sia beriman agar berlomba-lomba dalam amal kebaikan, wa¬lau sekadar perbuatan biasa seperti menyam¬but tamu, sebagai sa¬tu sikap yang sudah dicontohkan di sini.
Al-Qur`an juga menginginkan kita memperlakukan tamu agar mereka merasa nyaman dengan menanyakan apa saja keperluan mereka, dan memenuhinya, sebelum sang tamu mengutarakannya. Cara Nabi Ibrahim a.s. melayani tamu beliau merupakan satu contoh bagus tentang ini dan merupakan peragaan satu wujud penting dari keramahtamahan,

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim yang dimuliakan? Ingatlah ketika mereka masuk ke tem¬patnya lalu mengucapkan ‘Salamun!’; Ibrahim menja¬wab ‘salaman’, kalian adalah orang-orang tidak di¬ke¬nal. Maka dia pergi secara diam-diam menemui keluar¬ga¬nya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang di¬bakar), lalu dihidangkan kepada mereka (tetapi me¬re¬ka tidak mau makan).” (adz-Dzaariyaat [51]: 24-27)

Satu hal penting dari ayat-ayat ini yang menarik perha¬tian kita: akan lebih baik kita lebih dulu menanyakan keperluan tamu, laki atau perempuan, sebelum dia memintanya, karena tamu yang sopan biasanya menunda-nunda me¬nge¬mu¬ka¬¬kan keper¬lu¬an¬nya. Di luar dari pemikirannya, tamu semacam ini bahkan mencoba menolak apa yang mungkin ditawarkan tu¬an¬/nyonya rumah. Bila ditanya apakah dia memerlukan se¬suatu, sang tamu mungkin akan menjawab “tidak” dan ber¬te¬ri¬ma kasih atas tawaran tersebut. Untuk alasan seperti itu, moral qur`ani akan memikirkan sejak awal tentang apa saja yang mungkin diperlukan tamunya.
Perilaku lain yang disukai berkenaan dengan hal ini ada¬¬¬lah menawarkan bantuan tanpa menunda-nunda. Di atas sega¬lanya, perilaku seperti ini mengedepankan rasa senang tu¬an ru¬¬mah bila tamu merasa bahagia berada di sana. Sebagai¬ma¬na disebutkan ayat tadi, menawarkan sesuatu “dengan se¬ge¬ra” mengungkap kemauan tulus tuan/nyonya rumah untuk me¬la¬yani tamunya.
Tingkah laku mulia lainnya yang dapat dipetik dari ayat-ayat tadi adalah walaupun Nabi Ibrahim a.s. belum pernah kedatangan tamu sebelumnya, dia berupaya keras untuk me¬¬¬¬la¬yani mereka sebaik mungkin dan bersegera menyuguhkan da¬ging bakar “anak sapi gemuk”, sejenis daging yang terkenal sangat sedap rasanya, sehat dan bergizi. Dus, bisa kita tam¬bahkan bahwa selain dari mencukupi layanan-layanan yang te¬lah disebutkan, tuan/nyonya rumah harus pula mempersi¬ap¬kan dan menawarkan makanan kualitas prima, enak, dan segar.
Di luar semua ini, Allah juga menekankan perhatian akan daging yang hendak disajikan untuk tamu.



Konsep Kebijaksanaan Pilihan di Dalam Al-Qur`an


Al-Qur`an selalu menekankan konsep kebijaksanaan. Kuali¬tas ini dikhususkan untuk orang-orang beriman. Namun, ma¬nu¬sia menggunakan istilah-istilah bijaksana dan cerdik itu bertukar-balik. Oleh sebab itu, per¬¬bedaan makna di antara kedua kata tersebut selalu membingungkan, dengan ang¬gap¬an, yang tentu saja keliru, bahwa orang cerdik dengan sen¬di¬ri¬nya bi¬jak¬sana. Bijaksana, bagaimanapun, adalah memahami bah¬wa Allah hanya meridhai insan-insan beriman. Itu berarti memberdayakan manusia untuk menganalisis dan memahami hal yang dikemukakan ini secara tepat agar mereka mengenal hu¬kum alam sebenarnya dan mencarikan solusi pemecahan masalah de¬ngan setepat-tepatnya. Berbeda dengan pengertian awam, bi¬jak¬sana tak ada kaitannya dengan kepintaran seseorang; bah¬kan itu merupakan hasil dari keteguhan keyakinan se¬se¬orang. Dalam banyak ayat, Allah merujuk pada orang-orang tidak beriman sebagai “manusia tanpa kebijaksanaan”.
Kepintaran seseorang tampak dari reaksi seseorang saat meng¬hadapi kejadian tak terduga dan situasi runyam. Dibanding¬kan dengan reaksi dari mereka yang tidak punya pema¬ham¬an mendalam tentang adanya Allah, dan karena itu disebut tidak punya wisdom (kebijaksanaan), dengan mereka yang memiliki keyakinan kuat, tampak perbedaan kadar kebijak¬sa¬na¬an masing masing kelompok itu. Bila dihadapkan pada ke¬ja¬di¬an-kejadian mendadak, manusia beriman tetap bersikap mo¬de¬rat dan menggunakan kebijakan mereka untuk mendapatkan pe¬mecahan serta-merta dan tak sia-sia, terlepas dari ke¬ru¬mit¬an situasi. Pendirian bijaksana semacam itu merupakan ha¬sil dari pemahaman mereka pada Al-Qur`an, yang Allah ung¬kap¬kan sebagai satu “kriteria dari pertimbangan antara be¬nar dan salah” dan hidup mengikuti perintahnya.
Setiap orang dapat merancang beragam pola pemecahan ma¬¬salah bila dihadapkan pada situasi yang menghendaki kewas¬padaan dan kebijakan. Dan, dengan begitu mereka dapat mencegah kerugian. Namun, tidak ada solusi yang sepasti dan seabadi daripada apa yang diberikan oleh Al-Qur`an, karena berasal dari Allah, yang Maha Mengetahui. Orang beriman yang bertawakal pada Al-Qur`an dan telah dengan kokoh menggenggam “semua petuah ayat-ayatnya,” tentu mendapatkan beragam hasil yang diharapkan dalam segala urusan mereka.
Dalam bab berikut, kita akan menyoroti berbagai hal tentang tindakan-tindakan bijak arahan Al-Qur`an yang diran¬cang untuk membimbing orang-orang beriman.

Menganalisis Berbagai Tahapan
Kemungkinan dalam Perkembang¬an
Adanya kemampuan untuk memikirkan secara menyeluruh se¬belum mengawali suatu tugas, menaksir-naksir tahapan-tahap¬an kemungkinan menjelang pelaksanaannya, memperhitungkan ke¬mungkinan beragam situasi dan akibatnya yang dapat ter¬ja¬di merupakan tanda-tanda signifikan dari kebijaksanaan. Orang yang tidak bijaksana gagal mempertimbangkan hal-hal ter¬¬selubung ini dan abai mempertimbangkan pro-kontra se¬be¬lum membuat keputusan atau mewujudkan suatu gagasan. Ke¬te¬le¬doran sering mendatangkan akibat yang tidak diharapkan dan tak terduga.
Metode Nabi Ibrahim a.s. dalam menyebarkan wahyu Allah ke¬pada kaumnya dapat dijadikan teladan uniknya kemampuan ber¬pikir menakjubkan dari orang beriman. Kaumnya, yang penyem¬bah berhala batu pahatan, bersikeras pada kepercayaan se¬sat mereka, memuja patung, meskipun tidak se¬utuh¬nya mereka yakin akan kebenarannya. Sebab itu, Nabi Ibrahim a.s. me¬mutuskan untuk menggunakan metode lain dan menyiapkan sa¬tu rencana tahapan tindakan berkelanjutan.
Dalam rangka membuktikan kepada kaumnya, bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak bermakna selain dari ke¬ping¬an-kepingan batu belaka, beliau memutuskan untuk meng¬han¬curkan berhala-berhala tersebut. Tapi sebelum rencana di¬laksanakan, dia telusuri metode bijaksana yang paling te¬pat, dengan lebih dulu memastikan tidak ada seorang pun yang melihat perbuatannya. Metode itu tergambar dalam ayat berikut,

“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya, aku sakit.’ Lalu mereka berpaling darinya dengan membelakang.” (ash-Shaaffat [37]: 89-90)

Sebagaimana diungkapkan dalam sejumlah ayat, segera se¬¬telah beliau sampaikan bahwa dirinya sakit, orang-orang di sekelilingnya meninggalkan tempat itu dan membiarkan dia sen¬dirian bersama berhala-berhala itu. Kisah selanjutnya adalah sebagai berikut.

“’Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya ter¬hadap berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkan¬¬nya.’ Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu han¬cur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) da¬ri patung-patung yang lain; agar mereka kembali (un¬tuk ber¬tanya) kepadanya.” (al-Anbiyaa` [21]: 57-58)

Nabi Ibrahim a.s. menghancurkan semua berhala batu tersebut, kecuali yang terbesar, yang jadi sosok pujaan kaum¬nya, karena mereka anggap memiliki kekuatan besar. Tidak la¬ma kemudian, kaumnya datang menghampiri Nabi Ibrahim dalam keadaan marah,

“Mereka bertanya, ‘Kamukah yang melakukan pebuatan ini ter¬hadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang me¬lakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.’ Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, ‘Sesung¬guh¬nya, kami sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (di¬ri sendiri).’” (an-Anbiyaa` [21]: 62-64)

Dengan mencermati ayat-ayat bersangkutan secara menyelu¬ruh, nyatalah bahwa Nabi Ibrahim a.s. mewujudkan rencana be¬liau secara bertahap dengan sangat bijaksana. Hasil¬nya, beliau mendapatkan apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya, ka¬umnya yang memuja berhala mulai menyadari bahwa patung satu-satunya yang tersisa tidak punya kemampuan untuk me¬no¬long mereka. Patung besar ini, seperti juga berhala yang la¬in¬nya yang sudah hancur berantakan, tak lebih dari ke¬ping¬an batu yang tak bisa melihat, mendengar, atau ber¬bi¬ca¬ra. Lebih penting lagi, batu-batu itu tidak mampu me¬lin¬dungi diri mereka sendiri. Inilah pesan yang sesungguhnya disampaikan Nabi Ibrahim a.s. kepada kaumnya: Jauhi pe¬nyem¬bah¬an batu dan sembahlah Allah, sang Maha Pencipta seluruh alam raya.
Nabi Ibrahim a.s. telah menganalisis kemungkinan-kemung¬kinan yang mungkin timbul dan mendapatkan hasil yang di¬harapkan. Tamsil ini, bersama dengan banyak contoh serupa yang terhampar di dalam Al-Qur`an, menandaskan bahwa memperhitungkan situasi lingkungan serta sisi psikologis ma¬nu¬sia agaknya cukup efisien untuk mendapatkan hasil akhir yang dikehendaki. Orang-orang beriman yang bijak lestari se¬¬lalu memperhitungkan pelaksanaan satu tugas, tahap demi tahap, dan dengan cermat mempertimbangkan faktor dan elemen yang bakal membawa hasil jangka panjang. Sementara itu, tin¬dakan-tindakan berlandaskan Al-Qur`an yang mereka wujudkan, sebagaimana juga inisiatif yang mereka prakarsai untuk tu¬juan baik, tidak akan membawa kerugian di kemudian hari.

Sahabat Andalan
Sebelum pergi menemui Fir’aun untuk menyampaikan pesan Allah, Nabi Musa a.s. meminta persetujuan Allah agar mengizin¬kan saudaranya, Harun a.s., untuk menyertainya, seperti dapat kita baca dalam ayat berikut,

“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluarga¬ku, yaitu Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia ke¬kuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, su¬pa¬ya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak meng¬ingat Engkau. Sesungguhnya, Engkau Maha melihat (ke¬ada¬an) kami.” (Thaahaa [20]: 29-35)

Sebagaimana penjelasan ayat-ayat itu, adalah bijaksana untuk mendapatkan sahabat andalan bila menghadapi satu tugas penting. Sesungguhnya, Allah mengabulkan do’a ini. Ayat ber¬ikut menegaskan manfaat-manfaat lahiriah dan batiniah dari keikutsertaan teman andalan,

“Allah berfirman, ‘Kami akan membantumu dengan saudara¬mu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang be¬sar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu ber¬dua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang.’” (al-Qashash [28]: 35)

Bila orang-orang beriman berpegang pada metode ini, me¬¬reka dapat saling menolong bila salah seorang dari mereka ga¬gal atau keliru. Di samping itu, sudah menjadi fakta, ada¬¬lah lebih mudah bagi dua insan beriman untuk terus memelihara keadaan mengingat kepada Allah, sebab mereka dapat saling mengingatkan terhadap tugas ini manakala pikiran sa¬¬lah seorang dari mereka mulai bimbang. Ini satu rahasia lain yang diungkapkan ayat tersebut.
Tentu saja, masih banyak manfaat lain yang dapat diraih dari kehadiran sahabat andalan. Keberadaan insan ber¬iman la¬innya di sisi seseorang dapat menjamin keamanan mereka, se¬bab orang yang abai meramalkan suatu bahaya mungkin bisa di¬selamatkan oleh tindakan teman pendamping untuk mencegah ri¬siko yang mungkin menerpa.

Pembagian Tugas
Allah bersumpah atas sejumlah hal di dalam Al-Qur`an un¬tuk menekankan pentingnya hal-hal tersebut untuk diperhatikan. Salah satunya mengenai pembagian tugas.
Dengan bersumpah demi, “(malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan,” (adz-Dzaariyaat [51]: 4) Allah menegas¬kan manfaat dari perkongsian. Dengan mematuhi nasihat ini, agar mendistribusikan kerja di antara orang-orang beriman, banyak waktu dapat dihemat dan memungkinkan mereka me¬nye¬le¬sai¬kan tugas lebih cepat tinimbang di kerjakan seorang di¬ri. Ternyata, satu tugas yang memerlukan sepuluh jam untuk di¬se¬le¬sai¬kan satu orang dapat diselesaikan dalam hanya satu jam ji¬ka sepuluh orang dilibatkan di dalamnya.
Keuntungan lain adalah tercapainya kualitas hasil akhir yang lebih ting¬gi. Dari kerja sama semacam ini, tiap peserta dapat mengambil kearifan, pengetahuan, keahlian, dan pengalaman dari mereka yang turut serta dalam pekerjaan tersebut.
Sebagai tambahan, manakala sejumlah orang dilibatkan da¬lam pelaksanaan suatu tugas, kesalahan dan kekeliruan poten¬si¬al dan kerusakan, yang acap timbul dari ketergesa-gesaan, bisa banyak dikurangi.
Dalam masyarakat tidak beriman, orang umumnya cenderung memonopoli satu pekerjaan untuk diri sendiri dan tidak per¬lu berkongsi dengan orang lain; tujuannya agar semua peng¬hargaan dan imbalan yang diberikan oleh mereka yang me¬nik¬mati hasil pekerjaan itu menumpuk pada si pemborong sen¬diri. Pembagian kerja dapat menghapus kerakusan semacam itu dan melenyapkan keinginan jelek untuk memborong keuntungan da¬ri keberhasilan suatu proyek. Betapapun, suksesnya sebuah pro¬yek tak lepas dari keikutkesertaan kebijakan, penge¬ta¬hu¬an, dan pengalaman sejumlah orang, sehingga tak seorang pe¬ser¬ta pun berhak menyombongkan diri sabagai orang yang pa¬ling besar andilnya. Sesungguhnya, orang-orang beriman ti¬dak¬lah mencari-cari superioritas diri, sebab segala sesuatu yang mereka inginkan adalah kesenangan Allah swt. atas amal perbuatan hamba-hamba-Nya.
Pembagian kerja juga mendatangkan manfaat lain: bekerja secara kolektif untuk keperluan bersama akan mempererat per¬sahabatan, persaudaraan, dan kesetiaan sesama peserta. Bah¬kan, lebih dari itu, kerja sama memungkinkan seseorang me¬ngenal keindahan dan keahlian orang lain dan menepis nafsu serakah dari kalbu orang bersangkutan, dan akhirnya mem¬buat dia jadi orang sederhana (moderat).
Bekerja bersama untuk mendapatkan kesenangan Allah mem¬buat para peserta merasa saling dihargai, disenangi, dan ber¬¬bakti, karena suasana yang melandasi kerja semacam itu. Ti¬ap upaya yang mereka kedepankan untuk memenuhi tugas yang diemban mencerminkan cinta dan pengabdian kepada Al¬¬lah. Menyadari kenyataan ini adalah faktor lain yang menyuburkan persaudaraan di kalangan orang-orang beriman.
Malam untuk Beristirahat, Siang untuk Bekerja
Al-Qur`an menyatakan siang hari adalah waktu untuk ber¬aktivitas, sementara malam hari lebih baik dimanfaatkan un¬tuk istirahat. Ayat yang berkenaan dengan hal itu adalah,

“Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu ber¬¬istirahat padanya dan (menjadikan) siang terang ben¬derang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguh¬nya, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.” (Yunus [10]: 67)

Dengan meneliti tubuh manusia ter¬ung¬kaplah bahwa metabo¬l¬isme tubuh sudah diatur supaya beristirahat waktu malam dan bekerja pada siang hari. Kala mentari mulai terbenam, ke¬¬lenjar otak, yang berada di landasan otak, mulai mem¬ben¬dung melatonin. Ini membuat orang jadi kurang siaga. Fung¬si ker¬ja otak menurun dan suhu badan anjlok. Semua reaksi tu¬buh terhadap kegelapan akhirnya merendahkan produktivitas se¬seorang.
Dengan munculnya waktu fajar, peringkat melatonin berku¬rang dan hormon-hormon diaktifkan. Sementara itu, suhu ba¬dan meningkat dan fungsi-fungsi otak mencapai tingkat mak¬simum. Faktor-faktor ini memberi sumbangan pada kesiagaan, perhatian, dan produktivitas seseorang. Fakta-fakta se¬per¬ti ini membawa kearifan seperti yang disebutkan dalam ayat,
“Allah menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya.”

Minggu, 10 Mei 2009

pantun

Pantun Romantis

Ibu kota di jakarta
Setiap saat datang tamu
Kutak bisa hidup tanpa cinta
Dan cintaku adalah kamu

Keliling kota naik taksi
Tidak lupa beli delima
Saat kau berada disisi
Kubisa tersenyum lebih lama

Kemarau panjang di hutan
Kurang air banyak yang mati
Andai mencintaimu suatu kejahatan
Akupun rela di hukum mati

Air mengalir lewat pipa
Buat saluran sawah pak tani
Beberapa jam tidak bertemu
Aku sudah kangen lagi

Dijakarta ada si jali-jali
Pelabuhannya tanjung periuk
Kapan kamu datang kembali
Agar dirimu bisa kupeluk

Pantun Sedih

Bisa punah hewan kera
Kalau tiap hari slalu diburu
Aku korbanin ini semua
Karena aku mencintaimu

Ada anak sedang bermain
Berlari-lari melompat pagar
Bila kau menanti yang lain
Mungkinkah hatiku akan tegar

Ada lauk dalam piring
Pilih daging tanpa kepala
Hancur hatiku berkeping-keping
Melihat kau mesra dengannya


Buat apa ke pasar
Kalau hanya beli peniti
Buat apa punya pacar
Kalau hanya menyakiti hati

Anak kucing di keranjang kayu
Baru beranak sudah menyusu
Meski kamu tak lagi milikku
Di hatiku tetap terukir namamu

Kalau kutahu ada rakit
Kan kupancing ikan nila
Kalau kutahu cinta itu sakit
Takkan kumulai dari semula

Bagaimana membelah nanas
Ambil pisau dibelah dua
Bagai mana hati tak panas
Melihat kamu jalan berdua

Gerimis hujan gerimis
Gerimis di tengah hari
Menangis jangan menangis
Dia pergi takkan kembali

Pantun Humor

Buka hati jangan murung
Buka pakaian jangan bingung
Buka baju dapat gunung
Buka celana dapat palung

Lima enam di kayu manis
Kilat sambar pohon kenari
Kekasih hitam manis
Kalo tertawa manis sekali

Bawa air didalam ember
Air mendidih menjadi kaldu
Jangan kamu merasa ge....er
Yang naksir kamu ga sampai seribu

Buah semangka buah duren
Gak nyangka gue keren

Ada gula ada semut
Gila....!! gak nyangka gue imut

Ikan hiu pegel-pegel
I Love u Girl

Hitam-hitam kereta api
Penumpang sesak biar berdiri
Hitam-hitam kulit ini
Banyak gadis yang mau antri

Buah kedondong diatas atap
Dulu bencong sekarang tetap

Buah semangka buah manggis
Gak nyangka gue manis

Pantun Nasehat

Ada pena ada tinta
Lebih baik menulis puisi
Kalau berani bermain cinta
Harus berani pula patah hati

Ular kobra ular berbisa
Mau kesarang nyasar ke kuali
Hidup dengan berbagai cinta
Cinta sejati hanya sekali

Celana biru terkait paku
Jadi bolong jangan di pakai
Cintai orang yang mencintaimu
Bukan orang yang kau cintai

Buat apa beli batik
Kalau tidak di semarang
Buat apa wajah cantik
Kalau suka menghina orang

Dibalik pintu terkunci
Gantungan kawat berantai
Lebih mudah membenci
Dari pada mencintai


Jalan-jalan ke
kota medan
Hingga sampai ke selatan
Mana mungkin cinta bertahan
Kalau uang jadi alas an

Banyak sayur dijual di pasar
Banyak juga menjual ikan
Kalau kamu sudah lapar
cepat cepatlah pergi makan

Kalau harimau sedang mengaum
Bunyinya sangat berirama
Kalau ada ulangan umum
Marilah kita belajar bersama

Hati-hati menyeberang
Jangan sampai titian patah
Hati-hati di rantau orang
Jangan sampai berbuat salah

Manis jangan lekas ditelan
Pahit jangan lekas dimuntahkan
Mati semut karena manisan
Manis itu bahaya makanan.

Buah berangan dari Jawa
Kain terjemur disampaian
Jangan diri dapat kecewa
Lihat contoh kiri dan kanan

Di tepi kali saya menyinggah
Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat

Tumbuh merata pohon tebu
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding

Pinang muda dibelah dua
Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua
Ajaran baik jangan diubah


Anak ayam turun sepuluh
Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Supaya engkau tidak ketinggalan

Anak ayam turun sembilan
Mati satu tinggal delapan
Ilmu boleh sedikit ketinggalan
Tapi jangan sampai putus harapan

Anak ayam turun delapan
Mati satu tinggal lah tujuh
Hidup harus penuh harapan
Jadikan itu jalan yang dituju

Ada ubi ada talas
Ada budi ada balas
Sebab pulut santan binasa
Sebab mulut badan merana

Jalan kelam disangka terang
Hati kelam disangka suci
Akal pendek banyak dipandang
Janganlah hati kita dikunci

Bunga mawar bunga melati
Kala dicium harum baunya
Banyak cara sembuhkan hati
Baca Quran paham maknanya

Ilmu insan setitik embun
Tiada umat sepandai Nabi
Kala nyawa tinggal diubun
Turutlah ilmu insan nan mati

Ke hulu membuat pagar,
Jangan terpotong batang durian;
Cari guru tempat belajar,
Supaya jangan sesal kemudian.

Tiap nafas tiadalah kekal
Siapkan bekal menjelang wafat
Turutlah Nabi siapkan bekal
Dengan sebar ilmu manfaat

Pantun Jenaka

Jalan-jalan ke pinggir empang
nemu sendok dipinggir empang
hati siapa tak bimbang
situ botak minta dikepang

Buah kedondong Buah atep
Dulu bencong sekarang tetepp


Pohon kelapa, Pohon durian,
Pohon Cemara, Pohon Palem
Pohonnya tinggi-tinggi Bo!


Buah Nanas, Buah bengkoang
Buah jambu, Buah kedondong
Ngerujak dooooooooonggggggg...


Ada padi, Ada jagung
Ada singkong, Ada pepaya
Panen ni yeeeeeeeeeeeee!

Kura-kura dalam perahu
Iseng banget tuch kura...

Jambu merah di dinding
Jangan marah just kidding

Teka TEki

JOKES, TEKA-TEKI DAN PANTUN

SLAMET-SLAMET

ada dua anak yang main tebak-tebakan:
anak 1 : kalo sapi naik truk trus truknya ngebut kakinya tinggal berapa
anak 2 : ya masih 4 dong
anak 1 : salah yang bener tinggal 2
anak 2 : kok tinggal 2
anak 1 : masalahnya yang 2 buat pegangan, takut jatuh
anak 2 : sekarang kalo truknya ngerem mendadak kakinya tinggal berapa
anak 1 : nggak tau
anak 2 : bego loe. terang aja masih 3
anak 1 : kok gitu
anak 2 : masalahnya yang satu buat ngelus dada sambil bilang amin slamet-slamet
anak 1 : sialan loe


Bebek Goreng itu yang bikin enak apanya hayooo?
Yang bikin enak B nya. kalau ga ada B kan jadi EEK GORENG! siapa yang mau?

BMW APANYA YANG MAHAL?
W-nya kalau diganti X kan jadi murah!

Buah apa yang bisa nyanyi?
Lengkeng Park, donk!!!

Apa persamaan dan perbedaan seorang Penyiar dan Dokter Gigi?
Persamaannya adalah keduanya menggunakan mulut untuk mencari nafkah.
Perbedaannya, Penyiar menggunakan mulutnya sendiri, Dokter Gigi menggunakan
mulut orang lain!

Monyet manjat batang kelapa, tinggal apanya?
Tinggal turun!

Monyet apa yang bisa nanya harga?
Monyetak foto berapa mas!

Apakah kepanjangan dari HIJ?
HIJKLMNOPQRSTUVWXYZ!

Sakit apa yang bisa silat?
Kung Flu!

Kuda apa yang paling capek?
Kuda..ki gunung sambil jongkok!

Sandal apa yang enak dimakan?
SANDAL GORENG!

Gajah apa yang ada di tong sampah?
Gajahlah kebersihan!

Serangga apa yang makannya persis ma manusia?
Belalang ama Kupu²...(Belalang, Kupu², siang makan nasi kalo malam minum
susu!)

seekor kuda, ia berdiri dengan kepala menghadap kebarat, maka ekornya
mengharap ke arah mana? ekornya menghadap ke bawah

nggak disuruh baris tapi pada baris, hayoooo ngapain?
Mau nyebrang jalan!

Benda apa yang ada didalam celana dalam huruf depannya "M" huruf terakhirnya
"K" total hurufnya ada 5?
Merek!

Ada kucing dikejar anjing.saat diperempatan kucingnya berhenti. kenapa?
Lihat kanan-kiri mo nyebrang!

Apa bedanya sekolah ama rumah sakit jiwa hayooooo?
Kalau sekolah, yang sakit boleh pulang. kalau rumah sakit jiwa yang sembuh
baru boleh pulang!

Benda apa yang di lihat kotak, tapi dipegang bulat?
Logo OSIS yang nempel dibaju seragam perempuan...

Sate apa yang dari Jepang?
Sateria Baja Hitam!

Apa bedanya Kura² sama Bajaj?...
Kalau Kura², ada orang lewat kepalanya masuk. kalau Bajaj, ada orang lewat
kepalanya keluar!

Rumah apa yang butuh banyak air???
Rumah kebakaran!

Binatang apa yang paling malas Hayooo?
Lembu. Soalnya kalau disuruh dia bilang MOOOH!

Sayur apa yang pangkatnya paling tinggi
Sayur mayor!

Buah apa yang ada di tiang listrik???
BUAHaya, Tegangan Tinggi!!!

Apa beda bulan ama matahari... hayooooo?
Kalau bulan bisa ngomong... kalau matahari dapat diskon!

Pocong apa yang disenengin ibu²? Pocongan harga!

Bajaj rem-nya di manaa??? Di punggung Abang-nya! (bang bang... stop
bang/tangan nyentuh punggung abangnya)

Apa bedanya Kuda sama Kudra??
Kuda kakinya empat, kalau Kudra kakinya Emprat!

Monyet apa yang paling ngeselin?
Monyetel tv nggak bisa Monyetel radio juga nggak bisa!

Bis apa yang ada di atas pohon?
Bis a Monyet, bisa Tarzan. Elo juga bisa!

Bis apa yang menyesatkan?
Bisikan syetan!

Dilihat dari atas lobangnya satu, dilihat dari bawah lobangnya dua... apa?
Celana Dalam!

Ikan apa yang lahir langsung disiksa ibunya?
Lohan, soalnya kepalanya benjol!

Barang apa yang lagi dipakai tegang kalau udahnya lemes, awalnya "K"
akhirnya "L"?
Ketepel! (jangan ngeres dul dul ya...)

Gajah apa yang manja?
Bayi gajah!

Bahasa Indianya rambut lagi kusut?
Aachak achakee rham buthe!

Waktu hidup di nyanyiin waktu mati di tepukin?
Lilin ulang tahun!

Ayam masuk Laut Mati jadi apa?
Jadi ngambang!

Hakim apa yang tidak pernah mengadili perkara tapi justru rajin nonton bola?
Hakim Garis!

Ayam apa yang susah tampil modern?
Ayam kampung(an)!

Mengapa David Beckham pakai nomer 7 ???
...kalau pakai 36B longgar...

Tuyul apa yang gondrong?
Tuyul telat cukur! M

Sabun apa yang bau?
Sabuntar-sabuntar lu kentut, sih!

Lebih bodoh mana SUPERMAN sama BATMAN?
Lebih bodoh BATMAN!Punya sayap nggak bisa terbang (???)

KENAPA KALAU ORANG MELAMAR KERJA MEMBAWA IJAZAH???
KALAU BAWA JENAZAH BISA BIKIN GEMPAR!

Hewan apa yang bisa kaya?
HE WAN to be millionare!

Ditusuk bukan sate, dijala bukan ikan apa hayooo?
Konde² ibu²!

Lemari apa yang bisa masuk kantong?
LEMARIBUAN!!

Sapi apa yang larinya kenceng???
Sapida motor!

Jus apa yang item?
JUStru itu yang gw mau nanya!

kenapa ular enggak ada kakinya?
Karena kalau ular ada kakinya, sudah mbelit, matuk nendang lagi!

Mengapa Batman pakai baju lambangnya kelelawar bukannya B?
Karene B udah dipakai sama Bobo!

Dilihat dari depan BMW, dari belakang Bajaj, dari kanan Mercedes-Benz, dari
kiri bis, apakah itu?
Salah lihat!

Hewan apa yang kerjannya minum terus?
Nyamuk!

Gajah apa yang belalainya pendek?
Gajah pesek!

Tiang apa yang panas?
Tiang hari bolong!